Membicarakan wisata air terjun di Bandung, maka semua akan mengakui Curug Malela Bandung sebagai salah satu yang termegah. Namun ironisnya juga mungkin yang paling jarang dikunjungi karena letaknya yang terpencil. Curug ini karena keindahannya sering disebut sebagai surga tersembunyi mengingat lokasinya yang sangat terisolir dari ‘peradaban’. Jadilah tempat wisata di kabupaten Bandung Barat ini bagaikan sebuah harta karun keindahan bagi wisatawan. Mereka yang pernah mengunjungi dan menikmati keindahannya kerap menobatkan air terjun ini sebagai miniatur Niagara, air terjun yang termahsyur sedunia itu.
Curug Malela terletak di Desa Cicadas, Rongga – Gununghalu. Tempat wisata alam di Cililin ini lokasinya memang cukup terpencil yaitu baru bisa dicapai setelah kurang lebih 3 jam berkendara dari pusat kota Bandung. Itupun belum sampai dilokasi curug karena jalannya rusak, alhasil perjalanan harus dilanjutkan berjalan kaki menuju lokasi selama 2-3 jam. Bila enggan berjalan kaki bisa memakai jasa ojek hingga pelataran parkir. Darisinipun lokasi curug belum kelihatan melainkan masih harus berjalan kaki menuruni tangga pavling blok selama 30 menit. Di beberapa tempat pavling blok nya sudah hancur, menyisakan tanah merah yang licin bila hujan.
Curug Malela ini memiliki ketinggian sekitar 60 meter dengan lebar curug mencapai 70 meter, serta memiliki 5 buah jalur air terjun. Hulu sungainya berasal dari lereng utara Gunung Kendeng, gunung berapi yang telah mati, di sebelah barat Ciwidey.
Setelah rencana yang tertunda-tunda sejak tahun lalu, duaminggu sebelum bulan puasa 2016 kami memantapkan diri menuju curug Malela. Sejujurnya inipun tak murni sekedar menuju curug, karena sekalian mengantar salah seorang personil yaitu Tanti menyelesaikan pekerjaannya di Sindangkerta. Jauhnya perjalanan, itulah yang membuat semangat kami selalu maju-mundur.
” Tilu jam di jalan mah kawas ka Garut wae,” begitu celetukan bernada malas bila membicarakan curug Malela. Jauh memang.
Pada hari yang ditentukan disepakati cek poin pertemuan adalah cafe Farel yang terletak tepat didepan exit tol Bubahbatu. Bila akan masuk ke tol melalui gate Buahbatu, tempat ini sangat strategis sebagai cek point pertemuan.Keluar exit Padalarang, belok kiri menuju Batujajar, darisini kita akan beberapa kali melipir sisi danau Saguling. Warung-warung yang menyediakan ikan bakar seakan melambai-lambai.
Setelah selesai urusan di Sindangkerta, rombongan lanjut ke Gunung Halu dengan tambahan sebuah mobil yang bergabung untuk menjadi penunjuk jalan. Sepanjang perjalanan kita akan melihat pemandangan yang bervariasi dari perkampungan, kebun dan sawah, lalu menjelang Gunung Halu kita akan melewati perkebunan teh Montaya yang hijau menyegarkan mata.
Bagi anda yang berniat mengunjungi tempat wisata yang eksotis ini, berikut adalah rute jalan menuju kawasan wisata Curug Malela.
1.Menggunakan Kendaraan Pribadi
Cimahi -> Batujajar -> Cihampelas -> Cililin -> Sindang Kerta -> Gunung Halu -> Buni Jaya -> (jalan rusak) ->Curug Malela
2.Menggunakan Kendaraan Umum
Terminal Leuwipanjang -> naik angkot atau bis jurusan Cimahi/Cililin. Sampai di Cililin lanjutkan perjalanan dengan naik bus jurusan Gunung Halu/ Buni Jaya. Sesampainya di Terminal Buni jaya ganti ojek menuju desa Cicadas. Setelah sampai pelataran parkir di Cicadas, perjalanan ke lokasi Curug Malela dilanjutkan dengan berjalan kaki. @districtonebdg


Setelah mengikuti program Hiking Ceria IKA SADAYA Unpad yang bekerjasama dengan District One tanggal 22 Mei yang lalu, terus terang kok saya merasa mulai addicted to hiking yah. Perjalanan itu ngebangunin saya dari hibernasi panjang setelah lama tak melakukan hiking, lama sekali. Maka, pada saat District One mengadakan weekly program- nya, yaitu Saturday Outdoor, saya pun dengan antusias menyambutnya.
Walaupun kami hanya berempat dan tidak seseru ke curug Cibareubeuy, tapi tetap kami berusaha seceria mungkin berjalan menikmati pemandangan. Jalan setapak yang dilalui juga tidak seindah jalur ke curug Cibareubeuy. Jalan setapaknya penuh semak semak yang terasa gatal di kulit tapi apapun itu perjalanan harus terus berlanjut walau lagi lagi saya merasa agak sedikit bosan juga ada rasa khawatir kulit menjadi hitam legam. (ngeluuh terusss)




Setelah mencapai puncak, kami beristirahat sejenak lalu mengambil jalan pulang dengan rute yang sama. Rute sekitar 10 kilometer pulang pergi itu pun tak disadari telah kami lewati. Kabut dan gerimis kami nikmati saja sebagai bagian perjalanan yang manis sambil membayangkan suasana rumah dengan kasur empuk berselimut hangat, hidangan teh panas dan mie rebus yang selalu menggoda, sebab katanya ‘rindu’ memang harus sengaja diciptakan walau tak selalu harus dikabarkan.


Di sebuah puncak bukit Kiarapayung di kawasan Jatinangor, kami beristirahat. Punggungan yang mengarah ke puncak semu Manglayang ini amat sepi, karena bukan jalur yang populer seperti dari Barubeureum atau Batukuda. Namun suasana jalur yang sepi ini justru yang menjadi daya tarik. Hiking yang biasa dilakukan ini bagi kami bukan lagi sebuah perjalanan mengejar tempat paling tinggi, melainkan mengakrabkan diri ke jalur-jalur setapak disekitarnya.
Berdiri di puncak bukit, dengan pandangan yang bebas lepas ke arah lembah seperti kembali ke suatu masa lalu. Ada masanya kala tak ada yang dapat menghalangi jiwa-jiwa yang resah itu pergi menjelajah. Hanya didorong oleh insting liar yang menggelora tak tertahankan. Tidak cuaca yang buruk, pegunungan tinggi, rasa sakit mendera bahkan romantisme cinta. Lalu setiap orang merasakan betapa insting itu perlahan memudar kala memasuki kehidupan nyata. The eagle has landed. Tetapi kerangkeng dari besi atau sangkar dari emas tak pernah bisa mengubah rajawali menjadi burung nuri. Insting itu tetap ada dan sewaktu-waktu meronta ingin kembali mengangkasa.
Apa kiranya yang menarik di gunung Pangparang, sebuah pertanyaan yang menggelayut kala akan memulai perjalanan. Kawasan perkebunan kina PTPN VIII di Bukittunggul telah sejak lama menjadi playing ground kami, namun gunung ini tak pernah menjadi prioritas karena memang letaknya agak terpencil. Mungkin begitu mendalam kecemburuan sang gunung kala melihat kami lewat melaluinya hanya untuk bercumbu dengan gunung dan bukit di sekitarnya seperti Sanggara, Palasari dan Bukittunggul.










