Categories : Hiking

 

sanggara web

Hiking menuju puncak gunung Sanggara bukanlah perjalanan ongkang-ongkang kaki yang ringan bagi para jiwa resah yang rindu pada alam pegunungan. Tak lama sejak memasuki hutan segera saja kita sudah disambut oleh tanjakan yang terjal, sehingga terkadang harus menggunakan tangan untuk menjangkau akar dan batang pohon untuk membantu mendaki.  Hutan di kawasan Sanggara memang bukan taman yang manis seperti di Dago Pakar. Disini masih dapat dijumpai hutan purba dengan pepohonan yang berselimut lumut, pacet selalu siap menempel bila tak awas dan nyamuk hutan kerap mengerubuti kala beristirahat.

Puncak Sanggara sendiri berketinggian sekitar 1.900 meter dpl, terdapat sebuah nisan in memoriam di puncaknya yang menandakan pernah ada jiwa bebas yang dipanggil ke alam baka. Kawasan ini sering dijadikan arena latihan oleh para pecinta alam antara lain karena hutannya masih asri dan heterogen sehingga cukup representatif untuk materi survival.  Sehingga tak heran walau memang ada jalan di hutan namun bukanlah setapak untuk berlenggang kangkung karena hanya dilalui para pencari kayu, pemburu dan petualang.

“Lutung disini besar-besar hampir seukuran orang,” ujar seorang pencari burung yang sempat ditemui di bawah. Mungkin agak berlebihan, namun lutung yang kerap terlihat disini memang tidaklah kecil.

Selalu menjadi dilematis bila bertemu dengan wong cilik yang mencari pencaharian dengan berburu burung atau binatang lain di hutan. Disatu pihak itu mengganggu kelestarian alam namun dipihak lain perut mereka yang lapar tentu harus diisi, keluarganya di rumah perlu membeli beras dan anak-anak mereka perlu mendapat pendidikan yang tinggi agar kelak lebih pintar dari orangtuanya. Ah, semoga mereka berburu masih dalam batas kewajaran. Nature provides our meals as long as we contoll our appetite.

Pendakian cukup menguras energi, rasa lapar mulai menggeliat di perut kala sampai di puncak Sanggara. Namun tak ada makanan berat yang dibawa karena perkiraan kami tentang warung yang buka di desa terakhir meleset. Mungkin karena melewatinya terlalu pagi sehingga hanya ada coklat Silver Queen dan segepok roti yang gepeng untuk dibagi berempat. Toh itupun terasa nikmat setelah perjalanan di hutan yang menguras tenaga tadi.

Setelah beristirahat  beberapa lama kami berembuk sejenak apakah dari puncak Sanggara akan melanjutkan hiking ke Bukanagara atau turun kembali ke Cibodas. Dari perkebunan Bukanagara perjalanan bisa terus ke Cipunagara lalu kemudian Cikole, Lembang. Menurut cerita legenda Sangkuriang yang termahsyur itu, Bukanagara dan Cipunagara merupakan tempat para pekerja Sangkuriang beristirahat. Di wilayah Bukanagara terdapat sebuah tempat bernama gunung Tumpeng  dan di Cipunagara  terdapat tempat bernama gunung Paisdage yang diceritakan merupakan tempat  pembuatan makanan bagi para pekerja proyek Sangkuriang.

Akhirnya diputuskan untuk meneruskan perjalanan ke arah Bukanagara namun hanya sampai disekitar kawasan pasir ipis, darisitu kembali ke Sanggara dan turun ke Cibodas. Waktu satu jam kedepan mereka hanya akan mencoba masuk semakin dalam ke hutan dan merasakan aura kelebatan gunung ini. Setelah itu mereka akan kembali turun melewati jalan yang sama yaitu menuju perkebunan kina Cibodas.

Betapa berat rasanya meninggalkan Sanggara kembali turun menuju ke Bandung. Seolah tangan-tangan alam telah mendekap erat hati untuk tertambat disana. Hanya berjarak satu jam dari kota yang sumpek oleh kabut putus asa, ternyata di pegunungan semua tampak indah dan berirama. Sebuah simponi kehidupan yang mungkin dilewatkan di kehidupan kota, dan ketika merasakannya ada keharuan tersendat ingin dikeluarkan. Dan alam seakan orang tua yang penuh kesabaran membelai ujung-ujung rambutnya, mendengar semua keluh kesah serta memeluk penuh kehangatan. Pegunungan seperti ingin menitiskan kekuatan maha yang dimilikinya kepada yang mengunjunginya. Ataukah memang selama ini memang itu yang ingin dibisikkan mulut yang bijak bahwa kita telah mewarisi kekuatan itu sejak masih bayi yang memerah? Hanya kita tak merasakannya saja karena terselimuti kabut putus asa yang datang dan pergi. @bayubhar

 Posted on : September 8, 2014
Tags :