Categories : Hiking

 

Baru bergerak dari  Metro jam 9 pagi lebih, saya maklum pasti telat hingga meeting point di Puncak Eurad. Namun melewati jalur Ujungberung ke Lembang, rasanya enggan memacu motor. Pemandangan sepanjang jalur terlalu cantik untuk dilewati begitu saja, maka saya pun membawa motor berlenggang kangkung saja seraya menikmati hawa sejuk dan pemandangan indah disini. Terkadang berhenti sejenak mengabadikan suasana hehe. Seperti sudah diduga, kala sampai di Puncak Eurad, ternyata sudah ditinggal 😀 .

Atos arangkat,” kata teteh penjaga warung.

Aya saparapat jam kalangkung?” tanya saya memastikan. “Muhun,” ujarnya melihat jam sekarang 10:45.

Ah baru 15 menit di depan, tak terlalu mengkhawatirkan hehe. Saya pun duduk-duduk dulu di warung sambil memesan minuman bandrek. Sebetulnya sedari perjalanan sudah terbayang akan memesan roti bakar, namun… “Teu acan balanja,” ujar si teteh meredupkan harapan.

Setelah menikmati bandrek panas dan sos-ped sebentar, saya pun permisi mengejar rombongan ke gunung Lingkung. Menurut kalkulasi, jalur setapak ke gunung Lingkung tak akan sampai sejam. Bila sambil nyasar mencari-cari jalur paling lama dua jam. Jadi kemungkinan akan berpapasan dihutan.. atau tidak bertemu sama sekali haha.. maka saya pun menitip pesan, “Teh pami rombongan tos dugi deui ka warung, saurkeun we sina aruih. Teu kedah ngantosan.”

Bagi yang belum tahu, Puncak Eurad berada “dibelakang” Cikole  yaitu dengan melewati jalan Cicalung/Pasar Ahad yang menuju Cikendung. Menuju Cicalung, dari jalan raya Bandung-Subang belok ke arah Timur (jalan Pasar Ahad/Cikareumbi) atau bila dari arah Lembang/Maribaya ambil jalan menanjak ke Utara (jalan Ciputri/Cicalung). Puncak Eurad kini menjadi tempat yang ideal untuk dilewati berbagai aktifitas outdoor. Kegiatan hiking, gowes, trail running sering melewati kawasan ini dengan tujuan berbagai arah antara lain menuju Cikole, gunung Lingkung atau bahkan jalan Cagak.

Dari Puncak Eurad menuju Gunung Lingkung jalurnya mengikuti setapak yang melipir ke arah hutan, tepat disamping warung. Sebuah rebahan pohon jatuh menutup jalan, terpaksa beringsut jalan jongkok. Tak berapa lama kemudian sampai di pertigaan, bila ke kiri akan menuju ke Cikole maka ambil ke kanan. Ikuti terus jalur di punggungan ini, nanti akan ada beberapa jalur yang tampak serupa. Namun jangan tergoda untuk mengambil ke kiri karena secara kontur gunung Lingkung pasti akan berada disebelah kanan. Bila merasa kurang yakin, cari dan ikuti beberapa petunjuk jalur sepeda MTB yang masih tampak jelas di pepohonan.

Berawal dari keinginan untuk bergerak efisien, dalam sebuah survey pergerakan rombongan besar terasa lamban. Maka pergerakan 1-3 orang dirasa lebih maksimal. Berjalan sendiri di hutan, sebetulnya cukup menyenangkan. Seolah ada bagian komunikasi tak kentara antara suasana hutan dengan jiwa yang menentramkan hati. Namun kalau malam-malam ogah juga sepertinya.

Perjalanan sedikit menanjak, maklum namanya juga menuju gunung (walau sebenarnya bukit).  Jalurnya rimbun dan sepi, dengan lembah di kiri dan kanannya. Artinya kita sedang berjalan di punggungan, ini pertanda yang baik menuju puncak. Saat sedang berjalan celingukan menyusuri jalur, tiba-tiba tampak Bobby di depan dan Bais di belakangnyan. Ah rupanya mereka sudah kembali dari gunung Lingkung.

Paling 10 menit deui ti dieu,” ujar Bobby. Jalur setapak menuju gunung Lingkung ini akan bertemu dengan jalur setapak dari Cikole tepat dibawah puncakan. Bila akan ke lapangan datar di puncaknya, tinggal naik sedikit. Namun karena sudah terbayang, jalurnya sayapun tak meneruskan perjalanan melainkan ikut turun bersama kembali ke warung. Buat apa repot-repot toh. @bayubhar

 

 

 

 Posted on : August 6, 2017
Tags :