Categories : Hiking

 

 

Menurut hikayat, dahulu petani dari daerah Cibeusi dan sekitarnya, setelah menjual hasil panen ke Bandung atau Lembang sejenak akan beristirahat disini. Tempat ini mereka gunakan untuk menghitung uang hasil  jerih payah mereka. Dahulu salah satu sebutan untuk nominal uang adalah ringgit, jadilah area batu besar tempat ini disebut Batu Ringgit.  Mungkin  jalur ini dipilih sebagai jalur yang singkat menuju Cibeusi dari Lembang, atau bisa juga jalur yang aman karena tak banyak orang tahu.

Sekitar pukul sebelas siang, kami bertujuh memulai perjalanan dari Cikole dengan diringi cuaca cerah. Namun jangan  terbuai dengan cuaca cerah di Cikole, terlalu sering matahari tiba-tiba saja ngumpet ke balik awan tebal di daerah ini. Jalur menuju curug via batu Ringgit bukan jalur paling popular untuk dilewati, demikian pula bukan jalur yang jelas bila belum terbiasa berjalan di hutan. Rutenya cukup curam menuju sungai dibawah, namun masih aman untuk dilalui. Malah jalur seperti inilah yang menjadi jalur kesukaan kami, sebuah jalur shortcut di hutan.

batu ringgit1

Satu jam berjalan sampailah ke tepi sungai di bawah. Aliran sungai ini tampaknya akan berujung menjadi curug Cibareubeuy. Airnya amat jernih, menggoda pelintas untuk beristirahat di tepinya. Saat beristirahat, saya baru menyadari rasa panas yang mengiris-iris di kaki. Olala..rupanya sahabat karib kita daun pulus juga ada terdapat disekitar sini. Bagi yang memakai celana pendek saat berjalan melewati jalur ini, bersiap-siaplah dielus manja daun ini.

Mau tidak mau , sungai setinggi lutut ini harus diseberangi basah-basahan dengan konsekwensi sepatu basah. Bila tak mau basah-basahan, bisa tiru cara yang saya lakukan : buka saja sepatu kala menyeberangi sungai hehe.. Suasana basah bisa membuat kurang nyaman perjalanan, lagipula hei..ini bukan perjalanan yang terburu-buru kok..jadi santai saja, manjakan kaki selagi bisa.

12829454_10205874912968975_8092339770692979993_o

Menyeberangi sungai adalah pertanda bahwa kampung Senyum tak lama lagi akan sampai. Mudah-mudahan Pak Rosyid cs ada disana, sehingga bisa memesan nasi liwet untuk mengisi perut. Walau..ehem..sudah dua bungkus nasi Padang kami buka sepanjang jalan tadi. Kami tiba di kampung Senyum tepat pada waktunya, yaitu kala hujan semakin lebat. Disini protap pun dijalankan,  memesan nasi liwet dan kopi lahang.

Setelah beristirahat di kampung Senyum, misi berikut jalan-jalan kali ini adalah mencari jalur tembus ke sekitar tempat wisata air panas Gracia. Sekitar pukul tiga sore kami meninggalkan kampung Senyum, kembali menaiki bukit menuju Cibeusi. Ada tiga jalur umum menuju ke Cibeusi dari kampong Senyum yaitu jalur sawah, jalur naik bukit dan melipir bukit melewati saluran air.  Bila melewati sawah, konsekwensinya persimpangan ke Gracia tak akan terlewati, hingga jalur bukit yang dipilih. Walau juga menuju persimpangan dimaksud, jalur melipir bukit sepanjang aliran air tentu bukan pilihan terbaik kala hujan begini, bisa-bisa berjalan diatas selokan terus dengan resiko lama-lama sepatu calangap (tau maksudnya?).

Kelihatanya cuaca tahu bila kami dalam mode survey, hingga tak segan-segan menumpahkan air dari awan. Mode survey tentu berbeda dengan mode jalan-jalan selfie, tiap orang sudah siap dengan kondisi terburuk. Raincoat dikeluarkan, pakaian kering untuk baju salin dilindungi rapat-rapat. Sedikit tips, selalu bawa baju salin untuk ganti sebaik apapun raincoat yang dibawa. Kalau raincoat saya memang sudah udzur, jadi selalu bawa baju salin. Namun karena  merknya The North Face tetap dibawa-bawa, lumayan kan buat terpajang di medsos hehe..

Hujan terus mengiringi perjalanan dengan setia. Bila tak terlindungi atap hutan, tentu hujan akan seperti air bah dari angkasa rasanya. Pepohonan hutan yang perkasa dengan lembut melindungi kami dari hujan petir dengan dedaunan lebatnya. Namun tak pelak air yang tumpah dari hujan membuat jalan setapak hampir tak dikenali.

Setelah beberapa kali salah jalan dan hari mulai gelap, kelihatannya meretas jalur ke Gracia mulai tampak terlalu ambisius. Satu jam berjalan, kami menarik diri ke jalur normal setelah mengamati ciri-ciri jalur ini sebagai bekal untuk melanjutkan survey dilain waktu. Gracia.. you are next!

 

 Posted on : March 13, 2016
Tags :

Facebook Comments