Categories : Hiking

 

12745616_10209095848579929_2440956600450580721_n12744019_10209095847659906_1001352384693519172_n

Siapa tak kenal Tebing Keraton sebagai salah satu wisata paling kekinian di kota Bandung. Tentunya sudah kurang menarik bila mengulas tempat wisata ini untuk kesekian kalinya. Namun kami masih menyimpan rasa penasaran, bukan pada tebing Keratonnya namun pada jalur hiking menuju kesini. Bila berjalan kaki di jalan aspal tentu gampang sekali tinggal mengikuti saja jalan yang ada atau memakai ojek dengan biaya Rp 30,000,- sekali jalan. Ah, tapi tentu bukan perjalanan seperti itu yang kami cari,melainkan sebuah perjalanan yang akan sedikit memeras adrenalin.

Berawal dari sebuah perjalanan terdahulu ke Maribaya, walau tak terlalu dekat darisana tampak jelas Tebing Keraton di seberangnya . Hingga terpikir kala itu pasti ada jalur setapak menuju kesana. Bila dari Maribaya mungkin agak sulit karena harus menyeberang sungai Cikapundung yang curam,lalu mengapa tidak dicari dari desa Sekejolang yang terletak di ujung Tahura.

Sekian lama setelah perenungan itu, usai survey jalur di Tahura tiba-tiba saja terbersit untuk mencari jalur dimaksud. Dari desa Sekejolang Bar, Bobby, Arman dan Tanti melanjutkan perjalanan dengan mengambil setapak yang mengarah ke atas bukit. Tiba di bukit, pemandangan desa Sekejolang dan kehijauan Tahura di bawah tampak memanjakan mata. Namun ini barulah start, kami lalu menerobos ke belukar dan menemukan jalur pipa air.

IMG-20160224-03132

Rupanya sepanjang jalur pipa air ini adalah jalur setapak yang rimbun, maklum hanya dilalui untuk pemeliharaan pipa saja tampaknya. Di beberapa lokasi setapak ini cukup lebar, sehingga menggoda siapapun untuk mengira ini sebuah jalur setapak sejati. Namun segera jalur menjadi rimbun kembali oleh semak, bahkan di beberapa tempat kami kehilangan tempat untuk berpijak. Hanya sebuah tebing curam yang menganga ke bawah. Untunglah ada kawat baja untuk berpegang, hanya ini yang menjaga kami untuk tak hilang keseimbangan lalu tergelincir ke jurang. Bahkan tali webbing yang dibawa pun tak bisa banyak membantu dalam situasi begini. Saat melihat jurang dibawah, maka seakan jurang itupun menatap balik. If you gaze long into an abyss, the abyss will gaze back into you. Sejenak merinding mengingat kalimat Nietzsche itu.

Setelah melewati jurang, jalur tetap rapat dengan batu-batu licin. Sedikit lengah saja, setiap orang berjumpalitan di antara belukar rapat. Beberapa kali, karena berniat mengabadikan foto jalur malah ponsel yang dibawa terlempar karena tergelincir. Benar-benar harus ekstra berhati-hati. Niat untuk mengabadikan jalur pun batal dilakukan.

Setelah berjalan, jongkok, merangkak dan merayap sayup-sayup terdengar suara air bergemuruh di bawah. Semak terlalu lebat untuk melihat secara jelas ke arah suara air. Terlalu miris untuk membayangkan air terjun yang siap menelan dibawah,kamipun melanjutkan perjalanan dengan sedikit cemas. Hujan mulai turun, entah jalur seperti apa yang menunggu didepan.

Syukurlah hujan turun tak lebat, hanya mengirim basah ke sekujur tubuh. Dengan posisi gerak yang tak bebas, sudah malas untuk memakai jas hujan yang terlipat rapi di tas pinggang. Ah, lebih baik hujan-hujanan saja biar nanti ganti baju seusai hiking gila ini. Di depan, Bobby sebagai leader dengan cermat berusaha mencari jalur yang paling aman. Bisa dikatakan dibeberapa tempat tak ditemukan adanya jalur, satu-satunya cara adalah kembali mencari jalur pipa.

Setelah kembali menyusuri jalur pipa, sebuah jalan setapak menuju ke atas nampak cukup terbuka. Semua lega, karena bongkahan batu-batu besar yang menurut kami adalah penanda Tebing Keraton mulai dilewati. Jalur melipir ini tak memakan waktu lama untuk semakin menuju ke atas, menuju dataran terbuka. Tampak hutan pinus menyambut di depan, semua menghembuskan nafas lega. Saat keluar dari semak-semak, rupanya kami berada di camping area Tebing Keraton.

479711_10209089776268125_1040447001110063402_n

What a hike… jaraknya tak terlalu jauh hanya 2,5 kilometer saja namun cukup menguras tenaga dan memompa adrenalin. Usai hiking tak seorang pun cukup antusias untuk melihat panorama indah dari tebing yang terkenal ini. Peluh yang deras dan denyut adrenalin nyatanya lebih memberi kepuasan daripada sekedar pemandangan indah. Namun kami harus jujur mengatakan, ini bukanlah jalur setapak yang aman dan direkomendasikan. Bila tak punya pengalaman hiking sebelumnya, sebaiknya tak mencoba jalur ini.

 Posted on : March 5, 2016
Tags :

Facebook Comments