Jalur Darat Indochina ke Kunming

Beberapa kali perjalanan melipir perbatasan di Indochina membuka mata bahwa menerobos ke China bukan hal yang terlalu sulit, bahkan menjadi kepenasaran tersendiri. Dua kota utama di Selatan yang terhubung ke Indochina adalah Kunming dan Nanning. Jalur utama menuju Kunming, ibukota provinsi Yunan di China Selatan adalah melalui Vietnam dan Laos, sementara jalur dari Myanmar sampai tulisan ini dibuat bisa dikatakan masih tertutup bagi turis.

Bila memakai jalur Vietnam, flight internasional terdekatnya adalah kota Hanoi lalu memakai kereta api ke Lao Cai. Setelah menyeberangi pos perbatasan Lao Cai-Hekou maka memakai bis ke Kunming. Sementara bila memakai jalur Laos, maka flght internasional terdekatnya bisa dari kota Luang Prabang (Laos) atau Chiang Rai (Thailand). Dari kedua kota itu memakai bis ke kota Luang Namtha di Laos lalu dari terminal bisnya memakai bis ke kota perbatasan China di Mohan. Bila memakai bis secara ngeteng hampir bisa dipastikan, akan mendapatkan bis ke Mohan yang berangkat esok harinya. Bila ada, lebih baik memakai bis dengan rute langsung ke Kunming semisal Greenbus dari Chiang Rai.

Jalur dari Vietnam lebih pendek dimana jarak Lao Cai – Kunming sekitar 350 kilometer sedangkan dari Chiang Rai atau Luang Prabang menuju Kunming sekitar 700 kilometer. Menuju Lao Cai juga lebih nyaman dengan memakai sleeper train sementara menuju Luang Namtha memakai bis duduk. Namun terkadang perjalanan bukanlah mencari yang paling mudah atau paling cepat, sehingga bisa dikatakan kedua jalur ini sama menarik. Yang tampak jelas, jalur Vietnam akan menghemat waktu sehari lebih cepat. Menjadi hal yang menggoda kemudian, mempertimbangkan untuk datang dari Vietnam, lalu pulang lewat Laos 🙂

Walau selalu banyak penerbangan langsung menuju sebuah kota, tak ada yang menyamai seni perjalanan darat bahkan bagi sebagian orang direct flight bukanlah lagi sebuah petualangan karena tinggal duduk manis lalu tidur. Berbeda dengan lika-liku perjalanan darat yang penuh dinamika. Perjalanan darat sepanjang ribuan kilometer, bagi sebagian orang adalah sebuah obsesi, dengan pengerahan energi dan sumber daya yang setimpal dengan kepuasan yang akan didapat. Singkatnya, sebuah  life changing experience.

@districtonebdg

Cepat dan Nyaman Naik Kereta Malam Kunming – Lijiang

Tantangan backpackeran di negara yang tak berbahasa latin layaknya China, seperti disebutkan oleh sekian referensi, adalah masalah informasi dan komunikasi. Yang pertama minimnya papan informasi berbahasa latin dan kedua jarang yang bisa bahasa Inggris. Hal ini tak akan terlalu menjadi masalah bila akan berbelanja, karena Yuan (RMB) dan kalkulator bisa menggantikan kamus 🙂 namun bila traveling menjadi lain sama sekali. Saya merasakannya  empat tahun lalu kala datang ke stasiun Guangzhou, antrian mengular dan hanya mendapati bahasa Mandarin di peron tanpa ada yang bisa ditanya. Kala itu saya membatalkan niat mencoba perjalanan kereta api. Mungkin bukan saatnya, pikiran waktu itu.

Kini karena  keharusan memakai kereta menuju Lijiang, terpaksalah mempelajari sistem perkereta-apian negara Tirai Bambu. Bila dulu sistem booking online belum marak, kini untunglah sudah ada beberapa agen yang bisa melakukan. Namun tetap saja tak bisa menerima pembayaran kartu kredit non-China. Memang ada agen diluar China yang bisa melakukannya antara lain agen tiket kereta di Inggris dan Singapura, tapi heloow.. katanya mau belajar.. ya harus pakai sistem yang di China dong.

Salah satu agen tiket kereta online adalah web travelguidechina.com yang tampak cukup otoritatif dalam perkeretaapian ini. Seluruh jadwal dan rute kereta di China cukup update, dengan metoda pembayaran kartu kredit via Paypal.  Mereka mengutip fee USD 5 ditambah fee Paypal, kalo dirupiahkan sekitar Rp 75.000,-. cukup mahal tapi daripada melongo lagi di stasiun kereta,  saya pun memilih booking online  tiket kereta malam Kunming-Lijiang one way saja. Rencananya untuk tiket kembali akan membeli di stasiun Lijiang saja, setelah mengamati dulu tata cara pembelian tiketnya di Kunming.

Walau dibanyak kota besar China sudah ada bullet train, rupanya provinsi Yunan agak tertinggal perkembangannya hingga paling banter adalah jenis kereta cepat. Tiket yang dipesan ..ehem..adalah kelas paling dangkal yaitu hard sleeper seharga 152 yuan ( Rp 300.000).  Difasilitasi kasur cukup empuk dan selimut tebal, sebenarnya cukup murah  dibanding tiket duduk Argo Wilis Bandung-Surabaya yang bisa mencapai Rp 460.000. Sedikit tips, jangan lupa download dan print juga dialog dalam bahasa China yang banyak digunakan selama memakai kereta, semisal ‘mana bis ke stasiun kereta’ ,  ‘dimana menukar print email’ dan semacamnya.

Setelah menerima  softcopy tiket via email, saat tiba di peron print email ini ditukar dengan tiket sesungguhnya. Namun sebelum bisa memasuki stasiun, seluruh tas bawaan akan diperiksa scan x-ray dulu layaknya masuk bandara. Dengan tiket asli ini barulah bisa masuk kedalam stasiun. Disini carilah ruang tunggu yang tepat, karena terdapat banyak ruang tunggu untuk bermacam keberangkatan. Sekitar 15 menit sebelum keberangkatan penumpang baru bisa boarding ke gerbong. Salah satu yang menyenangkan di ruang tunggu ini adalah tersedia air panas -benar-benar panas- yang melimpah. Ini bisa dimanfaatkan untuk menyeduh mie instant dan kopi sachet.

Berangkat dari Kunming jam 21:30 pada pukul 4 pagi tiba di stasiun Dali, berhubung banyak penumpang yang turun sempat sedikit panik juga karena tak tahu ini stasiun apa. Tapi karena menurut jadwal tiba pukul 7 pagi, saya pun kembali beringsut ke kasur. Stasiun Lijiang ternyata adalah perhentian terakhir, dan semua penumpang turun hingga tanpa keraguan saya pun ikut turun. Salah satu yang membuat terkesan di  stasiun kereta Lijiang yang modern ini adalah suasana tamannya yang asri. Saya bersumpah mencium harum aroma bunga sesaat setelah keluar dari pintu exit nya. @districtonebdg