Categories : Jalan Jalan Wisata Alam

 

kebon teh

“Tuhan menciptakan Tanah Priangan tatkala sedang tersenyum” (MAW Brouwer)

 

Tanah Priangan dikenal sebagai  bumi yang elok, serupa wajah feminin dan jelita dari gadis Priangan yang kerap dituangkan dalam lukisan naturalis. Priangan atau sering disebut juga Parahyangan berarti Tempat Para Dewa. Daerah ini mencakup kawasan bagian tengah Jawa Barat yang keadaan geografisnya bergunung-gunung dan banyak sungai mengalir sehingga menjadikannya daerah yang amat subur.

Wilayahnya sekarang ini kurang lebih meliputi Sumedang, Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Bandung dan Cianjur. Bentang alam yang elok ini semakin memabukkan ketika ditunjang oleh budaya yang halus dan penuh cita rasa. Tak heran hingga kini pun bumi Priangan selalu menjadi tujuan wisata bagi masyarakat daerah lain.

 

Sejarah Priangan

Pada masa silam letusan gigantik dari Gunung Tangkuban Perahu  telah membendung aliran sungai Citarum purba di daerah Padalarang sehingga genangannya membentuk Danau Bandung purba yang sangat luas yaitu sekitar 50 km x 30 km persegi. Setelah lama tergenang pada akhirnya aliran air Danau Purba di cekungan Bandung mendapatkan pelepasan melalui proses erosi di celah-celah hogback ( Sunda : pasir ipis ). Maka terciptalah lembah yang masif dan subur dari sisa-sisa genangan air danau tersebut

Penduduk Priangan terdiri atas asimilasi pribumi dan pendatang. Penduduk asli diperkirakan merupakan keturunan dari komunitas yang telah lama menetap sejak masa Danau Purba. Sementara arus migrasi pendatang memasuki wilayah Priangan dari wilayah di sekitarnya dimana tanah yang subur dan berlimpahnya air merupakan daya tarik utama selain kondisi politik yang terjadi pada masa kerajaan. Arus migrasi penduduk ke Priangan semakin tercatat sejak masa bertahtanya kerajaan Mataram di Jawa Tengah.

Sistem persawahan dan pertanian komoditas yang berkembang – antara lain akibat sistem Priangan Stelsel pada jaman VOC- telah menumbuhkan pusat kegiatan ekonomi sehingga pendatang yang berasal dari etnis Cina, Arab dan Eropa semakin banyak datang ke Priangan. Pada abad XIX pertumbuhan penduduk di Priangan lebih banyak disebabkan oleh arus migrasi dibandingkan pertumbuhan alami.

Sebagai wilayah sentral kawasan Priangan, kota Bandung mewarisi banyak tradisi dan peninggalan masa lalu dari tanah Para Dewa tersebut. Seperti di masa silam, hingga kini pun kota Bandung senantiasa sukacita menyambut kedatangan para wisatawan pemuja cita rasa. Dengan caranya sendiri kota yang dijuluki Paris van Java ini menginspirasi para tamunya. Maka tak heran ketika konotasi Priangan kini sering dialamatkan kepada gemulainya kota Bandung.

 

Menemukan kembali legenda

Namun siapa pun harus bersiap kecewa bila berharap merasakan getar legenda dewi-dewi Priangan di tengah-tengah konsumerisme dan kosmetika kota. Geliat metropolitan kota Bandung tak ada bedanya dengan hedonisme kota-kota besar lainnya. Tak akan banyak inspirasi hidup yang ditawarkan mall-mall yang menjamur di setiap sudut kota. Mengikuti gaya hidup metropolis bagaikan menegak air garam dikala haus, hanya membuat rasa kehausan itu semakin mencengkeram.

Bila ingin menemukan kembali keanggunan tanah Priangan maka yang harus dilakukan adalah menghindar dari hingar-bingar metropolisnya. Pergilah bercengkerama dengan alam dan masyarakat di sudut-sudut pedesaan dan pinggir hutan. Sewaktu-waktu Sang Dewi akan menyibakkan keindahan yang selama ini silap dirasa oleh indra. Bila anda beruntung mendapatkannya, momen itu akan merupakan salah satu inspirasi berharga dalam hidup.

 

Namun bila  tak sempat mencumbui keindahan alam Priangan yang perawan, ada cara yang mungkin membantu anda menggapai Sang Dewi. Saat berjalan-jalan berkeliling kota dan desa,  bukalah hati anda. Tersenyum saat berpapasan dengan orang yang tak anda kenal, mengalah, memberi kesempatan dan membagikan setitik rejeki anda pada para fakir. Dengan melakukannya, bukan hanya anda mendekat pada keanggunan para dewi, namun bahkan keindahan itu telah menitis. Siapapun yang bertemu dengan anda, akan merasakan kehangatan Sang Dewi dan keindahan masa keemasan  Priangan. Sebuah momen yang menghangatkan kehidupan dan tak akan berlalu begitu saja. @bayubhar

 Posted on : September 10, 2014
Tags :