Categories : Asia Selatan Backpacker

 

Nama kota kecil Nagarkot pertama muncul kala sedang membolak-balik halaman majalah travel maskapai. Karena bosan dalam suasana kabin membaca majalah travel yang disediakan menjadi aktifitas favorit -selain tidur. Yang membuat terkesan adalah pemandangan gunung-gunung salju menjulang yang bisa dilihat dari pelataran hotel-hotelnya. Seketika itu juga saya paham bahwa Nagarkot akan jadi tujuan perjalanan berikutnya. The mountain is calling.

Pada ketinggian 2.195 meter, Nagarkot adalah salah satu tempat paling indah di Distrik Bhaktapur. Kota ini dikenal karena pemandangan matahari terbit dari Himalaya termasuk Gunung Everest serta puncak-puncak lainnya dari jajaran Himalaya di Nepal Timur. Nagarkot menawarkan rentang pemandangan pegunungan Himalaya di wilayah yang disebut Kathmandu Valley. Rentang ini mencakup Annapurna, Manaslu,  Ganesh Himal,  Langtang,  Jugal, Rolwaling, Everest dan Numbur dengan pemandangan luas kearah lembah Kathmandu dan Taman Nasional Shivapuri.

Nagarkot berjarak 32 kilometer dari Kathmandu dengan perjalanan sekitar dua jam-an dengan berganti bis di Bhaktapur. Menuju Bhaktapur, naik bis metromini dari terminal bis Ratna Park di Kathmandu. Suasananya  mirip terminal Kebon Kalapa tahun 90-an demikian juga bisnya seperti bis yang akan ke Ciwidey kala itu. Jangan  heran bila ditengah jalan bisnya mogok, lalu seluruh penumpang diover ke bis lain. Walhasil suasananya berjejal, beruntung Bhaktapur tidaklah jauh hanya sejam perjalanan.

Kala tiba di Bhaktapur, kondektur hanya menyuruh berhenti di suatu lokasi. Ia menunjukkan tangan ke sebuah arah ,” Nagarkot..'” katanya. Tak ada tanda-tanda arah harus kemana kala turun dari bis. Cukup lama melakukan orientasi medan sebelum mendapat secercah info. Rupanya menuju terminal bis yang akan menuju Nagarkot perlu jalan dulu sekitar satu kilometer, disekitar Kamal Pokhari setelah melewati terminal bis yang akan menuju Changu Narayan. Suasana terminalnya lebih amburadul dan bis baru bergerak kala sudah penuh.

Setelah sekitar 1,5 jam perjalanan menanjak dan meliuk-liuk dijalanan rusak sambil terus menaik-turunkankan penumpang sepanjang jalan akhirnya sampai juga di terminal bis Nagarkot yang lebih mirip parkiran tepi jalan. Setelah turun dari bis, segera terasa angin dingin Himalaya yang mengiris kulit. Tak buang-buang waktu saya segera membungkus badan. Beruntung jaket polar yang sudah berusia satu dasawarsa ini masih mampu menangkal dingin.

Saya segera mencari hotel yang ternyata masih sekitar satu kilometer jaraknya dari parkiran bis. Tak heran nama hotelnya pun  At the End of the Universe. Namun ditengah hawa dingin, tak seorangpun keberatan untuk berjalan dan bergerak bila tak ingin disayat angin gunung.

Suasana hotel cukup menyenangkan dengan ruangan kayu yang hangat, namun sedikit saja pintu terbuka udara dingin akan terasa mengelus. Bagi warga disini udara bulan Desember mungkin biasa saja dinginnya, namun bagi saya terlalu dingin untuk cuaca sore hari. Sebuah galau menggelayut antara romantisme menikmati sore dari teras sambil menggigil atau defensif saja dikamar dipeluk kehangatan. Viewnya memang luarbiasa, pegunungan salju didepan mata ;benar-benar tak menyesal datang kesini. Tapi suhunya brrr… walau matahari bersinar. Mungkin memang sebaiknya tak datang kesini dimusim dingin.

Coba menepis dingin dengan secangkir hot lemon ginger, namun tidak bertahan lama. Matahari semakin terbenam dan setelah cangkir kosong  “terpaksa” jalan-jalan lagi sekedar supaya tidak menggigil. Sambil orientasi medan, hibur saya dalam hati. Di sepanjang perjalanan, warung-warung mulai membuat perapian dipinggir jalan. Perapian sepanjang jalan memberi nuansa pada suasana malam. Dalam  hawa dingin dimana nafas pun beruap, percikan bara dan kobaran api disepanjang jalan seperti genit menggoda.

***

Hampir saja imaji saya tentang Nagarkot akan melulu tentang view pegunungan salju yang indah dengan anginnya yang dingin. Esoknya, kala turun ke Bhaktapur kembali dengan bis yang sesak oleh penumpang tiba-tiba saja seorang ibu yang baik hati memberi tidak sekepal tapi dua kepal kacang untuk dinikmati sepanjang perjalanan.  Saya mengikuti jalan bis yang meliuk-liuk dengan cemilan kacang. Saat melihat kacangnya habis, tanpa ba-bi-bu ia  segera memberi sekepal lagi tanpa bisa ditolak. Bis sampai di Bhaktapur, dan imaji tentang Nagarkot terasa lebih hangat.

@bayubhar

 

 

 Posted on : December 28, 2018

%d bloggers like this: