Categories : Wisata Alam

 

14449835_10210547181659623_5304930277049418966_nKawasan Cisarua, Lembang telah masuk ke dalam radar survey sejak beberapa waktu lalu.  Rute yang kami incar adalah jalur Burangrang-Cirata (BURATA) yang biasanya hanya dilewati oleh goweser.  Tentu saja , survey dimaksud adalah survey on foot, tanpa mengecilkan arti moda transport apapun.  The swiftest travel is he who goes on foot.  Namun seperti biasa, rencana tinggallah rencana. Karena terdampar di waitinglist survey, jalur yang masuk kedalam  rute BURATA itu hanyalah menjadi sebuah judul di timeline survey. Hingga pada suatu hari seorang teman yang notabene bukan tipikal outdoor bercerita bahwa dengan motor maticnya ia sengaja menyasarkan diri melewati Cisarua, jalan koral kebun teh Pangheotan , dan keluar dari Cikalong Wetan .

“Pemandangan nya mantap..” decaknya penuh kekaguman.

Selorohan ringan tentang menyasarkan diri itu sontak mengingatkan pada rencana survey ke jalur BURATA. Tanpa membuang waktu esoknya dengan motor kami menuju kesana. Dua motor dengan tiga personil  berangkat pagi hari dengan harapan tak kena hujan yang biasa turun pada siang hari di daerah itu. Seperti biasa, survey pertama ini hanya  bersifat mengumpulkan informasi awal. Misal akses jalan, warung terakhir,  tempat menitipkan kendaraan dsb.

Jalan masuk kejalur ini adalah melalui jalan disamping SPN Cisarua, yang hiruk pikuk karena ternyata disamping pasar.  Tak ayal biarpun memakai motor, macet parah sepanjang pasar ini harus dilewati sekitar pukul 9 pagi itu.  Apalagi kalau bawa mobil, pikir kami. Padahal ini hari Kamis, bukan hari weekend.

Selepas melewati kemacetan pasar,  jalan dengan kondisi cukup baik kami lewati sambil mengarahkan motor kearah Cipada. Jalan beraspal ini kemudian berakhir begitu saja di koral, hingga akhirnya sampai di perbatasan perkebunan teh.  Karena sudah tak menemui aspal tadinya survey akan dihentikan sampai disini saja, enggan untuk menerjang jalan koral yang entah terbentang berapa kilometer. Biarlah nanti disurvey dengan hiking atau lari.

Namun ketika sejenak berhenti, terbaca sebuah plang kecil menuju wisata Sendang Geulis Kahuripan.  Sebelumnya kami pernah mendengar sekelebat nama tempat ini, sehingga semangat untuk melanjutkan survey memercik kembali. Motorpun berlenggak-lenggok diantara jalan koral dan becek khas perkebunan teh.  Namun harus diakui pemandangan perkebunan teh yang mengarah ke gunung Burangrang ini memang indah tiada tara. Tak salah bila teman kami berdecak terkagum-kagum.

Perkebunan teh yang dilalui bernama Pangheotan, mengingatkan pada sejarah seorang preanger planter bernama van Houten.  Arah ke Sendang sendiri tak terlalu jelas, namun dengan rajin bertanya akhirnya ketemu juga yaitu setelah melalui portal perkebunan akan menemukan pertigaan dengan sebuah shelter. Ambil jalan yang paling kiri, walau motor akan sempoyongan oleh kondisi jalan.  Toh akhirnya sampai juga walau teman yang dibonceng terpaksa harus turun dulu.

14469485_10210547226900754_3286501856555950937_nKeberadaan sumber air yang amat jernih ini layaknya oase ditengah perkebunan teh,  mestinya mengundang wisatawan berdatangan. Namun sepertinya hanya para motoris penasaran yang dominan kesini. Setidaknya itu kesan kami, karena kondisi jalan koral dan tak terdapat banyak info mengenai keberadaannya. Padahal jalan kesini relatif datar dibanding jalan koral perkebunan teh Sukawana yang lokasinya tak jauh darisini. Mungkin kebanyakan lebih memilih kesana.

Motor bisa masuk hingga parkiran Sendang atau dititipkan di halaman rumah penduduk pun akan disambut dengan baik. Hanya ada beberapa rumah, dan tampaknya didesain untuk menampung pengunjung yang ingin bermalam. Di lokasi Sendang sendiri yang terletak lebih kebawah, tampaknya sering menerima tamu yang bermalam. Suasana sekitar Sendang sebenarnya agak mistis, dengan sebuah pohon beringin besar yang menaungi parkiran. Tarif masuk sebesar 10 ribu rupiah, dengan karcis resmi dari Perhutani.

14445072_1461167500566543_506210477321556143_oSebuah kolam buatan disediakan bagi yang ingin berendam menikmati kesegaran air dari telaga kecil. Namun saya lebih memilih berendam di telaga kecil tempat keluar mata air, sensasinya lebih alami. Bila sudah sampai sini, rasanya sayang bila tak mencoba berendam di kolam kecil ini. Rasanya akan luarbiasa segar.

Setelah puas mengeksplorasi Sendang Geulis Kahuripan, kami  pulang mengambil jalan pulang berbeda arah, yaitu menuju jalan raya Purwakarta di Cikalong Wetan. Bila enggan melewati jalan koral yang lumayan panjang dari arah Cisarua, alternatif menuju kesini adalah keluar tol Padaleunyi gate Cikamuning, kemudian belok kanan menuju Purwakarta. Setelah beberapa kilometer disebelah kanan akan ada jalan menuju Cisomang, ikuti sampai habis jalan aspal. Darisini jalan koral tak terlalu panjang, bila berjalan kaki pun jadinya  lebih memungkinkan.

 

 Posted on : October 14, 2016
Tags :

Facebook Comments