Categories : Hiking

 

Cek point terbaik untuk memulai hiking menuju curug Cibareubeuy menurut kami adalah jalan akses masuk ke Gracia resort. Tentu saja bukan di resortnya ^_^  melainkan di warung-warung bersahaja di perkebunan teh sekitarnya. Pemandangan kebun teh yang hijau menyejukkan mata, warung yang menyediakan tempat lesehan dan parkir yang luas. Kalau makanan sih sebenarnya biasa saja, namun suasananya lebih tentram memberi nilai lebih.

Karena bukan jalan utama suasananya jauh lebih sepi dibanding starting point lain di Cibeusi, Wates ataupun Treetop Cikole. Bila terlalu lama di warung ada kalanya terbersit godaan untuk lebih berlama-lama lagi disini hehe.. Lagipula tak ada tiket masuk disini karena bukan tempat wisata, melainkan parkir seikhlasnya. Bahkan kalau jajannya tak pelit, empunya warung akan tampak mengabaikannya.

Hiking kali ini memang tak berniat menuju curug melainkan hit and run menelusuri jalan setapak sekitar perkebunan teh ini. Hanya mengalokasikan waktu 2-3 jam kami realistis saja tak akan terlalu jauh berjalan. Lagipula tak terhitung banyak jalur yang berseliweran disini, namun kami lebih tertarik jalan setapak yang langsung menuju hutan.  Two roads diverged in a wood, and I- I took the one less traveled by and that has made all difference.

Cuaca yang suram menjadikan bukit-bukit berhutan lebat didepan tampak misterius. Kabut tampak datang dan pergi di puncaknya dan hanya tinggal waktu hujan tampak akan turun. Walau ingin berlama-lama di warung, tanpa terasa tiba-tiba saja kami bertiga sudah sampai di perbatasan hutan ( hebat, kan heheh..). Berbekal sepotong info tak jelas dari pekebun ” pilari we Kaliandra, teras aya kebon kopi lebet we ka leuweung”.  Itu bahasa Spanyol, kalau Indonesianya kurang lebih cari pohon Kaliandra, nanti ada kebun kopi masuk aja ke hutan. Yah, dalam suatu survey, informasi paling tak jelas pun patut disyukuri.

“Nu kumaha tangkal Kaliandra teh?” tanya Bar. Memang na uing teh dosen Biologi, pikirnya. “Teuing atuh,” Bais dan Panji juga geleng-geleng.

Namun akhirnya sampai juga di kebun kopi, yang berbatasan langsung dengan hutan. Tanpa map, aplikasi GPS bahkan kompas ketiganya pede saja masuk ke hutan. Lieur lah GPS sagala barenage, ujar Bar yang lebih mengandalkan pendekatan old school. Konturing we, katanya. Bukan Conjuring lho.

Jalan setapak yang berlawanan arah membuat bimbang, akhirnya dipilihlah jalur yang menuju ke bukit. Perjalanan menanjak pun dilewati lebih dari setengah jam. Bagi yang tak terbiasa, jalur-jalur ini akan tampak sama dan memang serupa. Disarankan berhati-hati.

Hampir satu jam berjalan push tanpa henti kami tiba di semacam arena datar, mungkin puncakan kecil karena medan mulai landai.  Ini cukup melegakan, sampai tiba-tiba dalam suasana berkabut ini hujan turun. Suasana hutan menjadi lebih misterius. Kamipun bersitirahat di puncakan sambil menilai situasi. Melongok bukit dan jurang sekitar, mempertimbangkan lokasi berada.

 

Bila diteruskan, tampaknya jalur setapak ini akan bertemu dengan jalur dari Wates yang menuju curug Cibareubeuy. Bila demikian sangat mungkin akan ada semacam pertigaan beberapa waktu ke depan. Dan posisi kami tampaknya berada di sekitar gunung Kramat. Merasa puas dengan penilaian ini, kami memutuskan balik kanan mengingat tenggat waktu dua jam pun sudah terlampaui. Tinggal waktu satu jam untuk turun. Walau masih dibalut rasa penasaran kami pun kembai ke warung di kebun teh, sambil berjanji suatu hari akan menuntaskan jalur ini.

Dua hari kemudian, kami bertemu Bobby yang baru menyelesaikan survei jalur di sekitar itu. Ia melewati jalur dari Cibeusi menuju curug, namun berbelok kanan di kawasan hutan Batu Tapak lalu mengikuti jalur menanjak hingga gunung Kramat lalu keluar di kawasan Wates. Artinya penilaian kami tak terlalu salah, bila diteruskan memang kedua jalur itu bertemu di gunung Kramat. Tentu saja, asumsi ini harus diverifikasi dengan survey yang sebenarnya suatu hari nanti.

 Posted on : July 23, 2017
Tags :