Categories : Hiking

 

Ini adalah hiking ke-4 yang kuikuti bersama Diva. Tujuannya adalah kawah Tangkuban Perahu tapi melalui track yang belum pernah kulalui sebelumnya. Ini memang sangat menarik.

Kami berangkat dari CIC agak siang, molor dari jadwal  seharusnya pukul 08.30, dikarenakan ada beberapa teman datang terlambat. Setelah pemanasan, berdoa, seperti biasa kami melakukan ‘Foto Kelas’  maksudnya foto bersama sebelum memulai aktivitas.

Jauh-jauh hari di  grup D1VA, kami diingatkan untuk membawa bekal dan perlengkapan secukupnya dan ekstra  minum karena jarak yang akan kita tempuh P.P lebih dari 10 KM, dengan perkiraan waktu tempuh sekitar 6 jam (walau kenyataanya 15KM dan memakan waktu 7,5 jam…hiks)

 

Sebelumnya kami sudah mendapat informasi tentang kondisi track yang akan kami lalui coral treal,  tea walk, view pinus and eucalyptus. Menurutku medan tracknya masih bersahabat, tidak sesulit saat hiking pertama kali bersama D1VA ke Curug Cirengkrang, tapi yang menjadi tantangan adalah saat menghadapi coral track yang panjangnya minta ampun, seolah-olah tiada akhirnya.

 

Memang diakui, suasana masih berbeda saat kami masih di kebun teh dan coral track dengan pinus view.  Kami masih memiliki semangat ditambah dengan hamparan kebun teh yang hijau dan pohon-pohon pinus menjulang tinggi, indah, memanjakan mata dan menggoda kami untuk berfoto ria, sampai lupa perjalanan kami ke depan masih panjang dan itu menyebabkan waktu yang kami butuhkan sampai ke tujuan justru lebih lama.

Saat kami memasuki hutan Tangkuban Perahu, akhirnya kami menemukan coral track yang cukup mengganggu langkah kami, awalnya kami masih semangat, sempet foto-foto dulu, namun lama kelamaan membuat telapak kaki sakit seolah-olah sedang  melakukan refleksi kaki di sepanjang jalan berbatu. Lama-lama kami mengalami kelelahan, pegal,dan sakit badan. Ini mulai membuat mental menjadi down. 

Sebenarnya kami sudah diingatkan agar jangan terlalu berjauhan dari guide,  tapi yah namanya budak baraong, sepertinya gank d1va masih harus belajar disiplin mengenai aturan, hal itu sering diabaikan, terutama karena kekuatan fisik dan pace teman-teman berbeda-beda.

Kecepatan langkah kami di coral track mulai menurun, nafas mulai naik turun, kecemasan mulai melanda. Hal itu menyebabkan kami terbagi menjadi 5 kelompok berpencar  dan jarak antara kelompok lumayan cukup jauh dan cukup menyulitkan host dan guide untuk memantau kami.

 

Akhirnya kami sampai di tempat kelompok yang lebih dulu tiba, tinggal seitar 300 meter lagi menuju kawah. Di sini kami istirahat sambil menunggu peserta lain kumpul semua, sayang salah satu teman kami tak bisa lanjut dan dia ditemani teman kami, Desi.

Setelah cukup istirahat, beberapa teman termasuk aku memutuskan balik sebelum menuju kawah, memang disayangkan, meskipun sebenarnya kami masih mampu tapi kami masing-masing memiliki alasan; takut kemalaman saat masih di hutan, mengejar waktu sholat yang semakin mepet, padahal sebenarnya kami bisa melakukan tayamum untuk menggantikan wudhu dan sholat, di hutan pun bisa, aturan agama telah banyak memberikan kelrluasaan umatnya beirbadah dimanapun. Tapi entah mengapa saat itu  tak terpikirkan sama sekali. Kami terlalu fokus dan khawatir pada keadaan teman kami yang tidak bisa lanjut.

 

Saat menuju pulang, aku dan Desi terpisah dari teman-teman yang sama-sama balik turun, perkiraan pukul 16.00 tiba di warung Emak di Sukawana tempat kita kumpul untuk makan dan sholat, namun sayang rencana tinggal rencana ternyata kami berdua malah tersesat, gara-gara kami berdua asyik ngobrol sehingga tidak fokus dengan track yang kami lalui, kami lupa belokan arah menuju warung Emak. Kami sempat bertanya pada penduduk  tapi ia malah memberikan informasi yang justru membuat kami semakin menjauh dari tempat yang dituju.

Hari semakin sore, kami berdua belusukan di kebun teh, sadar ternyata semakin jauh, kami kembali ke jalan berbatu tapi kami semakin jauh karena jalan yang kami lalui tidak sama saat kita berangkat, perasaan kami bercampur aduk, yang tadinya lapar, hilang seketika, yang ada cemas, lelah, pegal, dan takut orang lain khawatir, apalagi signal sulit sekali, sehingga membuat kami sulit berkomunikasi, migrainku kambuh tapi aku tetap menyemangati diri bahwa  ini pasti bisa kami lalui, beberapa kali aku istirahat untuk minum sambil menenangkan diri, lalu kami sampai di daerah pemukiman, bergantian kami bertanya pada penduduk yang kami temui, tapi kami ditunjukkan ke tempat mahasiswa yang sedang camping, lalu kami balik lagi ke arah kebun teh, beberapa kali kami bertanya tapi tetep tidak menemukan arah yang benar, dan akhirnya kami masuk ke pemukiman penduduk dan kami bertanya pada bapak-bapak di sana dan kami diantarkan sampai ke jalan yang ternyata berbatu juga, coral track, tapi kami memutuskan untuk sholat dulu, saat menemukan mesjid, di sana kami baru dapat sinyal dan kami hubungi bu Tanti yang kebetulan dia ga bisa ikut karena sakit, kami menngabari kami tersesat ke Pabrik Teh,  lalu beliau membalas “ Pabrik Teh nya buka tidak?” “Banyak orang gak di sana? “Coba Tanya mereka” Tidak lama kemudian dia WA call Desi meminta penjelasan, lalu kami kabari lagi  kalau kita mulai mendekati tempat titik kumpul, yaitu warungnya emak tapi mau sholat dulu, agar semua tidak khawatir.

 

Setelah selasai sholat, perasaan kami mulai tenang, dan kami mulai mencari penduduk sebelum melanjutkan pencarian kami,untuk memastikan arah yang diberikan bapak tadi, dan ternyata arah yang kami ambil salah, harusnya ke atas, kami malah turun ke bawah, kami diminta mengikuti jalan yang berbatu, tapi tidak terlalu rapat, sampai ada pohon pinus diujung jalan lalu belok kiri, lalu terus ikuti jalan berbatu tersebut dan setelah beberapa kali belok akhirnya Alhamdulillah kami menemukan warung emak, dan kami disambut tawa teman-teman lain yang sudah menunggu di sana. Ternyata bukan hanya kami saja yang tersesat, hampir setengah dari kelompok salah ambil jalan. Akhirnya kami menertawakan diri kami sendiri karena akibat kelalaian kami 😂

 

Sungguh dari  hiking kali ini, aku mendapat pembelajaran yang sangat berharga, ternyata coral track tak selamanya menyebalkan, menyakitkan telapak kakiku, tapi saat kami tersesat justru membantu kami kembali menuju arah yang benar, menuju warung Emak,  Satu hal lagi aku banyak belajar bahwa aku harus selalu tenang dan berpikiran jernih dan positive thinking dalam situasi apapun, termasuk saat kelelahan dan tersesat.  Sometimes you win, sometimes you learn.

Apapun yang terjadi   Keep calm and enjoy.

 

Gak sabar nunggu hiking berikutnya.

 

Penulis

Neneng ‘marni’ Sumarni

Pengajar di SD Terpadu Niagara, Ngamprah – KBB

 Posted on : July 11, 2019

%d bloggers like this: