Categories : Asia Timur Backpacker

 

“Aya naon kitu di Guangzhou?” tanya Dunga pertama ketika diajak ke kota itu.
“Aya Afrika hideung,” jawab Bar sekenanya.

Salah satu yang menarik perhatian milisi budget ini pada kota Guangzhou di China, adalah keberadaan koloni Afrika dalam jumlah yang cukup besar disini, sehingga kawasan tempat mereka tinggal pun sering disebut Little Afrika. Maka jangan heran bila di pertokoan kota Guangzhou terutama kawasan Xiaobei, akan mudah ditemui orang-orang Afrika yang hitam legam. Bukan bermaksud rasis, hanya untuk membedakan dengan ras Afrika lain di Utara yang lebih Arabik. Mereka berkoloni disini untuk mengirimkan barang ke negerinya seperti Nigeria, Kenya dan lainnya. Cina adalah partner utama Afrika dalam perdagangan, yang satu kelebihan barang produksi yang satu haus akan barang. Klop.

Suasana benua hitam langsung terasa ketika keduanya -seperti biasa- nyasar, lalu dalam keadaan terhuyung lapar masuk ke sebuah rumah makan. Disekeliling tampak warga berkulit hitam sedang menikmati makan siang.

“Asa di Zimbabwe..,” gumam Bar sambil melihat berkeliling,” bener kitu ieu teh di China?”
Dunga tak mempedulikan, ia sedang mencoba menyumpit makanannya ,”Daging naon ieu teh?” gumamnya mengernyit.

“Daging onta,” ujar Bar singkat sambil terus menyuap.

Kota terbesar ketiga di China ini memang memiliki histori sebagai jalur perdagangan sejak dulu. Mungkin juga sejak era jalur sutera jaman dahulu, entahlah. Namun koloni Afrika disini sudah lama ada terutama sejak reformasi China oleh Deng Xiaoping  tahun 90-an, sehingga menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut kota metropolitan ini. Tahun 2012 dianggap sebagai puncaknya dimana terdapat sekitar 100.000 warga Afrika disini, menjadikannya koloni Afrika terbesar di Asia. Di tahun-tahun berikutnya angka ini perlahan surut karena berbagai alasan, namun tetap merupakan konsentrasi Afrika yang besar diluar benuanya. Di bandara Baiyun, Guangzhou kita akan terbiasa melihat calon penumpang tujuan Afrika membawa bagasi seperti akan pindah rumah. Tampaknya sebuah kelaziman bagi penumpang tujuan Afrika untuk membawa bagasi yang membumbung.

Walaupun sudah turun temurun dan banyak terjadi perkawinan campur dengan warga lokal, keberadaan koloni Afrika kerap menghadapi permasalahan, terutama isu imigrasi. Sebagian warga Afrika menganggap pemerintah China tak serius menerima mereka sebagai warga kota, mempersulit bisnis dan imigrasi hingga terkesan ingin mengusir keberadaan mereka. Terkadang protes dan perselisihan dengan otoritas bisa pecah menjadi kerusuhan. Hal seperti ini tentu terjadi dimana-mana, hanya saja bila di negara lain kebanyakan menimpa pekerja migran maka disini adalah pedagang migran. Namun Guangzhou adalah kota metropolitan yang multirasial, tak hanya warga Afrika yang hilir mudik disini. Warga Arab,  Turki, Melayu juga kerap dijumpai. Sebenarnya kondisi multikultural ini juga menjadi salah satu daya tarik tersendiri dari kota Guangzhou. (2013)

 Posted on : February 8, 2017
Tags :