Categories : ADVENTURE

 

Saat jalur setapak berakhir, saya tertegun memandangi  tembok megah memanjang yang menandakan kita sudah tiba di zona puncak. Puncak tertinggi Vietnam tinggal 200 meter lagi namun tak terlihat karena kabut yang tebal.  Biasanya inilah saatnya  untuk “push” mengeluarkan sisa-sisa tenaga menuju puncak gunung namun justru kini rasanya motivasi pendakian sudah hilang. Zona puncak Fansipan sudah berupa kompleks bangunan megah yang tertata untuk turis. Hanya beberapa puluh meter kemudian, kamipun berdesakan dengan turis-turis yang berdatangan dengan cable car. Dari balita hingga lansia.

Saya tersenyum kecut, teringat pengalaman enam tahun lalu kala pertama mendaki Fansipan tahun 2011. Hanya ada jalan setapak menuju puncak, sisa-sisa rebahan salju di rumpun bambu dan bermalam di shelter bobrok. Namun kini sudah berubah  samasekali, Camp 1 dan camp 2 tempat dulu bermalam sudah dibangun tertata seperti kampung kecil. Struktur shelterya dari baja ringan dengan atap aluminium, beberapa bangunan yang ada di camp bisa menampung puluhan orang. Sebagian jalan setapak sudah berupa tangga dari batu dan sepanjang jalur pendakian berdiri tiang-tiang pancang. Beberapa kamp pekerja terus dilewati hingga mendekati puncak.

Cable car yang mulai beroperasi tahun 2016 lalu benar-benar mengubah wajah gunung Fansipan. Seperti puncak Doi Inthanon di Thailand, kini setiap orang bisa sampai ke puncak tertinggi dengan mudah. Bagi yang ingin sampai ke puncak gunung Fansipan untuk sekali jalan siap-siap merogok kocek 600.000 VND (Vietnam dong) untuk cable car plus 100.000VND untuk kereta shuttle (funicular).  Walau sudah tahu sebelumnya kondisi terkini Fansipan dari browsing internet, tetap saja ada rasa kurang menerima yang menohok. Ada aura yang hilang dari puncak yang dijuluki “roof of Indochina” berketinggian 3.143 meter dpl itu.

Semakin lama di puncak rasanya semakin banyak suasana yang hilang, namun saya tak bisa egois. Gunung adalah milik semua orang bukan cuma para pendaki, setiap orang berhak menggapainya.  Sensasi untuk berada di puncak gunung adalah hak setiap orang, bukan mereka saja yang cukup kuat melakukan pendakian. Mungkin dengan tarif 700.000 VND  (sekitar 420.000 IDR) itu, sejumlah dana bisa terkumpul untuk pelestarian, bahkan mungkin keberadaan cable car itu pun malah membuat jalur pendakian menjadi lebih lestari. Hanya orang-orang yang mengerti kelestarian alam yang akan melewatinya.

Bagi mereka yang tetap lebih suka mencapai puncak gunung Fansipan dengan cara mendaki seperti kami, masih bisa melalui rute pendakian tradisional  yaitu melalui jalur Tram Ton, Sinchai atau Cat Cat. Jalur Tram Ton atau Heaven Gate adalah yang paling populer karena lebih landai. Di tahun 2011, kami memulai pendakian dari jalur Tram Ton dan turun lewat jalur Sinchai. Namun kini bahkan saya pun tergoda untuk ikut merasakan sensasi  cable car yang disebut-sebut terpanjang di dunia ini.  Maka setiba di puncak, kami memutuskan turun dengan cable car dan mau tak mau dibuat kagum dengan kemewahan ini.

Stasiun  atas cable car tidak terletak tepat dipuncak gunung melainkan disediakan funicular untuk turun menuju kesana, dimana restoran yang megah dan fasilitas lain tersedia.  Segera sesampai di area stasiun atas cable car, kami beristirahat di sebuah restoran yang ada di lobby. Disini udaranya hangat karena suhu dijaga sebatas suhu ruangan. Sambil menunggu keberangkatan cablecar, saya pun menyesap  ca phe den nuom

(hot black coffe) serta cinnamon aple tea  seraya mencoba mencerna kemewahan suasana. Bila kekurangan VND untuk menikmati suasana puncak gunung ini, jangan khawatir kartu Visa juga sakti untuk digunakan di berbagai booth disini.

Pondokan Laban  Rata di gunung Kinabalu akan tampak terlalu sederhana dibandingkan dengan skala bangunan disini.  Agak mirip cable car di Langkawi, namun jelas lebih spektakuler. Tampak  jelas bahwa Vietnam ingin menjadi yang terdepan dalam wisata pegunungan di Asia Tenggara. Saya lalu tak ingin berandai-andai kapan wisata pegunungan di tanah air bergerak lebih maju.

Dari stasiun atas cable car barulah perjalanan pulang menuju kaki gunung dimulai, waktu tempuhnya selama 20 menit. Rasanya seperti melayang diatas awan, semakin rendah ketinggian yang dilewati maka kabut tebal yang menyelimuti puncak gunung perlahan-lahan tersibak. Hutan lebat, air tejun dan pesawahan menjadi view yang spektakuler dari cable car. Masih ingin berlama-lama menikmati view dari cable car, tanpa terasa kami sudah tiba di stasiun bawah, jangan kaget, yaitu sebuah mall di tengah resort. Enam tahun lalu fasilitas gunung Fansipan masih sama seperti gunung Ciremai, namun kini keduanya sudah seperti bumi dan langit. @bayubhar

 Posted on : May 21, 2017
Tags :