Categories : Wisata Alam

 

PS IMG_6474_Snapseed rsz

Adventure is not outside man; it is within (George Eliot)

Semilir angin terasa dingin mengelus permukaan kulit. Udara sejuk semakin menusuk karena hujan turun sejak sore tadi di kawasan Dago Pakar tempat kami sedang berkumpul. Percakapan hangat yang ditemani gelas-gelas berisi kopi panas sedikit mengusir hawa dingin kala malam semakin beranjak. Hujan belum juga mau berhenti seakan ia ingin menghadirkan suasana masa lalu kala cuaca seperti ini seringkali menemani kami di alam liar.

 

Taman Hutan Raya Juanda

Lokasi Taman Hutan Raya Juanda yang terletak di tengah-tengah wilayah Bandung awalnya dikenal sebagai Kawasan Hutan Lindung Gunung Pulosari dan Taman Wisata Curug dago. Hutan ini  merupakan kawasan pelestarian alam  yang   berfungsi sebagai paru-paru kota Bandung. Jaraknya hanya lima km dari Gedung Sate sebagai pusat pemerintahan Jawa Barat.

Taman Hutan Raya Juanda diresmikan pada tanggal 14 Januari 1985 bertepatan dengan tanggal kelahiran Ir. H. Juanda berdasarkan Keputusan Presidan No. 3 Tahun 1985 dengan luas 590 Ha. Tahura Juanda secara administrasi pemerintahan terletak di Kecamatan Cicadas dan Kecamatan Lembang, pengelolaannya berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 192/Kpts-II/1985 diberikan kepada Perum Perhutani Unit III Jawa Barat.

Kawasan hutan ini memiliki daya tarik wisata alam yang cukup beragam seperti pemandangan alam, flora dan fauna serta keadaan udaranya yang sejuk dan nyaman.Di dalam kawasan Taman Hutan Raya terdapat berbagai obyek wisata yang cukup menarik seperti Monumen Ir. H. Juanda yang terletak pada suatu plaza, gua-gua buatan peninggalan jaman kolonial, Kolam Pakar yang merupakan kolam buatan seluas 1,15 Ha yang berfungsi sebagai tempat penampungan air yang berasal dari sungai Cikapundung. Serta terdapat 2 buah curug (air terjun) yaitu Curug Dago dan Curug Omas yang tingginya 35 m.

Di goa Goa Jepang terdapat empat lorong untuk masuk, dimana konon katanya lorong ke dua dan ketiga sebagai lorong jebakan. Hanya berjarak sekitar 500 meter dari Goa Jepang, terdapat Goa Belanda yang berumur lebih tua dari Goa Jepang, karena dibangun pada tahun 1918. Di goa ini masih terdapat bekas rel roli yang digunakan untuk segala macam pengangkutan.

 

Mengakrabi  Dago Pakar

Walau hanya “sepelemparan batu” dari kota, hanya beberapa kali saya menyempatkan diri menikmati keasrian hutan ini. Alasannya sederhana saja, saat masih kecil hutan ini terasa terlalu lebat dan menakutkan, sewaktu SMA saya melihatnya bagai laboratorium biologi yang membosankan dan ketika telah sering menjelajah saat menjadi mahasiswa saya menganggap hutan terlalu manis sehingga akan lebih heroik bila berjalan-jalan di kelebatan hutan alami di Situ Lembang atau Bukitunggul. Hingga suatu saat karena kepindahan kembali ke Bandung, maka saya lebih sering merasakan keasrian suasana hutan ini.

Di kawasan Dago Pakar kerinduan pada gunung dan hutan  itu sedikit terobati. Apakah kami akan kembali melakukan penjelajahan seperti dulu? Mungkin saja..entahlah…., biar insting saja yang nanti menjawabnya, bila getaran-getaran halus itu masih ada.

 

@bayubhar

 Posted on : September 5, 2014
Tags :