Categories : Hiking Wisata Alam

 

Community Based Eco-Tourism (CBET) merupakan suatu pendekatan pembangunan pariwisata yang menekankan pada peran aktif masyarakat lokal (baik yang terlibat langsung dalam industri pariwisata maupun tidak) dalam bentuk memberikan kesempatan dalam manajemen dan pembangunan pariwista, termasuk dalam pembagian keuntungan dari kegitan pariwisata yang lebih adil bagi masyarakat lokal. Gagasan tersebut sebagai wujud perhatian yang kritis pada pembangunan pariwisata yang seringkali mengabaikan hak masyarakat lokal di daerah tujuan wisata (Suansri ,2003).

Melibatkan penduduk lokal pada dunia kepariwisataan sangatlah penting, jangan sampai masyarakat sekitar hanya menjadi ‘penonton’ atau bahkan ‘korban’ dari sebuah kegiatan wisata dalam wilayahnya. Saling berinteraksi, berbaur antara wisatawan dan masyarakat lokal selayaknya haruslah terjadi karena dengan demikian akan membuat sebuah ikatan emosional yang saling menguntungkan.

Konsep ini merupakan pendukung bagi tipe kegiatan wisata adventure travel, dimana para turis atau wisatawan biasanya mengunjungi pedesaan atau perkampungan sederhana. Para turis yang biasanya merupakan penduduk perkotaan seyogyanya tidaklah berlaku sebagai ‘pendatang kaku’ yang berperilaku hanya sebagai ‘penikmat’ atau pengeksplore sebuah pedesaaan atau perkampungan. Akan tetapi selayaknya para wisatawan di sini memposisikan diri sebagai sebagai seorang sahabat terhadap penduduk lokal yang dapat memberikan ‘keuntungan’ baik secara material maunpun immaterial.

Dalam setiap kunjungan pertamanya saat mengunjungi sebuah pedesaan atau perkampungan, team District One selalu melakukan pendekatan personal terhadap penduduk lokal yang diistilahkan sebagai ‘sosped’ atau sosial-pedesaan dengan berinteraksi di warung-warung sekitar. Perbincangan sepeminuman kopi di sebuah warung lokal seringkali memberi kesan tersendiri baik bagi kami maupun penduduk sekitar. Dari sini kita dapat saling memberi keuntungan, kami mendapat informasi mengenai sebuah destinasi dan mereka mendapat keuntungan secara ekonomi.

Seringkali dengan konsep seperti ini, kami  mendapat sahabat baru sehingga memudahkan untuk mendapat tempat singgah yang layak untuk tamu-tamu yang dibawa. Dengan berbekal konsep ini, membuat kami bisa menjalin silaturahim secara alami dan tidak ‘kaku’.

Bagi kami keramahan warung lokal lebih mengena di hati dibanding keramahan Alfamart, Indomart atau mart-mart yang lain… karena keramahan sebuah penduduk pedesaan tidak bertendensi apapun selain sebuah transaksi jual beli sederhana dan persahabatan. (Bayu Ismayudi/DO)

 Posted on : January 24, 2017
Tags :