Categories : Asia Timur Backpacker Jalan Jalan Ransel

 
 IMG-20150112-00539Dunga gelisah mencoba-coba wifi yang tak kunjung menyala. “Cenah aya wifi ..” gerutunya melirik stiker wifi yang tertempel di dinding restoran Mc Donald. Sementara Bar tak terlalu mempedulikan, karena kerap ia mematikan saja semua gadgetnya ketika sedang melakukan pergerakan. Semua gadget? Wah pencitraan, karena nomer hapenya saja cuma satu tak pernah berubah sejak dulu. Mun acan ruksak mah teu perlu ganti hapena oge, pikirnya.

“Tanyakeun atuh ka pagawe na” usul Bar.

“Lah percuma, euweuh nu bisaeun basa Inggris didieu mah” keluh Dunga frustasi,” boa password na oge make huruf Cina.” Padahal bahasa Inggris Dunga pun kalau diskala nilainya mungkin hanya C minus.

Memang kesulitan utama backpackeran di China adalah kendala bahasa.Sangat jarang yang bisa berbahasa latin, bahkan pegawai hotel sekalipun. Selain itu tak ada money changer, jadi dollar yang dibawa tak berguna disini. Dilinting wae ieu kitu 100 dolaran teh keur udud, gerundel Dunga.

“Padahal gaya mun bisa update status euy,” gumam Dunga, bagaimana tidak, mereka sedang nongkrong di restoran Mc Donald yang terletak di samping Starbucks, di dalam gedung hotel Marriot kota Guangzhou. Mendunia sekali, padahal plis deh sayur kacang warung bu tunduh yang tak sampai sepuluh ribu an itu juga masih basah di bibir.

Pergilah menuntut ilmu hingga negeri Cina, demikian menurut sebuah hadits. Entah itu hadits sahih atau tidak, namun bunyinya amat terngiang oleh mereka. Kebudayaan Cina selama ini selalu dekat, bagaimana tidak generasi mereka kerap dimanjakan oleh cerita silat Kho Ping Ho, serial tv legendaris Siau Tiauw Eng Hiong alias Pendekar Memanah Rajawali. Nama-nama pendekar di serial itu masih melekat di ingatan: Racun Barat, Setan Timur, Pengemis Utara dan Kaisar Selatan. Lalu tak ketinggalan film kungfu mulai dari Bruce Le hingga Jet Li, juga kudapan bakpao dan swike.

Dalam pelajaran sejarah rasanya akan selalu tersingkap cerita tentang laksamana Ceng Ho dengan armada raksasanya yang melintasi Jawa, biksu Budha I Tsing dari Cina pada jaman Sriwijaya, dan perjalanan Marcopolo yang melalui jalur sutera menuju Cina. Pendeknya, kebudayaan Cina sudah sangat dekat dengan kita sejak dulu.

Belum lagi kini produk Cina membanjir dimana-mana.Hampir tak ada barang kebutuhan sehari-hari yang tak dapat diproduksi di Cina. Barang-barang produk Cina terkenal karena murahnya, dengan kualitas yang bervariasi. Berbagai informasi tentang Cina mengalir deras kepada semua orang, dan kini tiba-tiba saja mereka berdua sudah berada di Guangzhou, ibukota propinsi Guangdong di Cina Selatan. Sudah takdir bahwa perkenalan dengan negara Tiongkok ini dimulai dari kota Guangzhou, sebuah destinasi yang tak terlalu lazim dibanding kota-kota yang lebih populer seperti Hongkong, Beijing dan Macau misalnya.

Beberapa tahun sebelumnya kala melewati kota Lao Cai di Vietnam Utara yang berbatasan pos imigrasi darat dengan Cina, Bar sudah merasa bahwa hanya tinggal waktu ia memasuki negara itu. Dari Lao Cai di Vietnam Utara, perjalanan ke arah Utara akan menjumpai ke kota Kunming di Barat dan Nanning di Timur.Dari Nanning , perjalanan ke Guangzhou sebagai kota ketiga terbesar di Cina ini sudah terbuka lebar. Dua tahun kemudian, firasat itu terbukti saat visa dari kedubes Cina sudah ditangan. Sayang jalur darat ini tak sempat dicoba karena keterbatasan waktu.

Akhirnya setelah ditipu supir taxi, tak menemukan hotel yang dicari dan berputar-putar tak keruan karena tak dapat membaca arah jalan yang semua memakai huruf Cina, mereka toh masih survive hingga kini sedang ngopi di restoran Mc Donald yang banyak dijumpai disini. Bukankah itu inti dari backpackeran: survive. Kalau dinosaurus dulu backpackeran, mungkin mereka juga bisa survive sampai sekarang.

“Kalem we, da lamun mimiti datang turis mah sok katipu bae, jadi anggarkeun we jang katipu’” ujar Bar santai. Dunga mengangguk lemah, masih belum rela yuan(CNY) nya diporot supir taxi.

“Mun embung katipu mah kudu make travel agen”, lanjut Bar. Benar juga, pikir Dunga, namun bila melalui travel tentu biaya-biaya akan berlipat dibanding dengan backpackeran seperti ini. Jadi biarpun ketipu, tetap lebih murah. Dunga kembali berseri-seri. Pengalaman pertama tak selalu mengasyikan, namun menjadi modal berharga untuk perjalanan quantum leap selanjutnya.

Sayangnya perjalanan mereka kali ini memang tak mulus. Rupanya badai Haiyan sedang mengamuk di Filipina. Ukuran super hurricane ini amat dahsyat sehingga ekornya saja turut mempengaruhi cuaca kota Guangzhou. Hari yang kemarin cerah tiba-tiba kini berubah menjadi basah, dingin dan berangin.

Tak lucu bila hanya berdiam terus di hotel, maka mereka pun memaksakan bergerak. Untunglah transportasi di Guangzhou sudah maju dengan adanya subway dan bis-bis kota yang nyaman. Namun tak pelak bila sedang jalan kaki mereka harus pasrah diterpa hujan dan angin dingin.

“Tungguan euy, sapatu urang leueur..” teriak Dunga di belakang yang selalu ketinggalan karena tak bisa cepat.
“Jibreg atuh urang nungguan maneh mah,” balas Bar juga tak mau basah kuyup terus melangkah menuju tempat berteduh

Mereka bergegas dari satu tempat berteduh ke tempat berteduh lainnya. Hit and run, kalau kata Mohammad Ali. Andai lahir di Cina mungkin namanya Mohamad Jet Li.

“Halah, asa didiklat aing mah..” keluh Dunga yang kakinya mulai merasa kram. Mungkin sudah nasib, karena dulu pun ia satu bivak dengan Bar saat diklatdas.

Akhirnya mereka tiba malam hari di bandar udara internasional Baiyun, dengan kaki yang basah dan pegal karena terus berjalan melintasi genangan air dan cuaca gerimis. Namun keduanya boleh sedikit lega, misi mereka di Guangzhou sudah selesai. Kota-kota lain :You are next..! (diucapkan seperti Cong Li )

 Posted on : April 8, 2014
Tags :