Categories : ASEAN Countries Backpacker

 

imagesKesan awal ketika saya membayangkan Vietnam adalah “angker”, dan ternyata kesan yg sama juga terpatri di benak teman teman saya…dan itu merupakan hal yang wajar. Betapa tidak, negara ini baru menata diri tahun 1976  (Reunifikasi Vietnam) dan baru benar-benar selesai perang di tahun 1989 (di Kamboja). Hebatnya, Vietnam pernah berperang melawan negara-negara superpower, seperti Perancis, Amerika dan China tapi semuanya dimenangkan oleh negeri Uncle Ho itu.

Hari sudah mulai sore, ketika kami menginjakkan kaki di kota Saigon, perjalanan dari bandara Tan Son Nhat dilanjutkan dengan bis sebagai public transport di kota itu. Saya dan Adjat lalu duduk di jajaran kursi paling depan setelah memasukkan ongkos transport kedalam sebuah kotak yang disediakan dekat supir bus. Sengaja saya mengambil posisi duduk paling depan, karena bisa leluasa melihat suasana jalanan kota.

Sepintas saya merasakan suasana kota Saigon tidak berbeda dengan kota-kota di Indonesia, namun di sini pengendara motor atau roda dua jauh lebih banyak daripada pengguna roda empat. Tapi di sini saya tidak mendengar bisingnya suara knalpot motor hasil modifikasi, semuanya standar. Di beberapa persimpangan tidak dilengkapi traffic light, tapi semua berjalan teratur, tidak saling serobot dan ini salah satu kekaguman saya, karena walaupun Vietnam negara berkembang sama seperti Indonesia, tapi mereka mempunyai semangat disiplin dan toleransi kepada sesama pengguna jalan.

Kira-kira setelah setengah jam, kami tiba di terminal. Kemudian kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju sebuah hotel muslim dimana Bar, teman saya yang lain, telah menunggu di sana. Selama di perjalanan menuju hotel, kami melewati jajaran toko-toko tempat orang berlalu lalang. Di sekitar banyak sekali turis turis asing dan masyarakat kota Saigon seringkali menyapa menawarkan jajaannya dengan ramah.

Sekitar pukul tujuh malam, kami berjalan menapaki taman kota Saigon, sebuah taman yang menjadi tempat berkumpulnya masyarakat kota. Masyarakat kota Saigon rupanya sudah terbiasa berkumpul di taman kota, mereka melakukan berbagai aktifitas seperti olah raga, bermain, atau sekedar berjalan-jalan bersama rekan atau keluarga, bahkan di sisi lain saya melihat sekumpulan orang yang sedang berdansa Salsa.

Tidak berapa lama kami tiba di sebuah toko langganan, “Hallo my friend!” sambutan yang hangat kami dapatkan dari sang mpunya toko tersebut yang memang sudah menjadi teman baik kami di kota itu. Setelah berbasa basi sang mpunya toko mempersilahkan kami duduk di teras toko, kebiasaan masyarakat Saigon mereka selalu bercengkrama di teras luar rumah dengan menggunakan kursi dan meja kecil, hal ini membuat suasana keakraban semakin kental.
Hangatnya caphe den nong atau kopi hitam khas Vietnam menambah keakraban kami apalagi dengan diiringi soup ga atau sop ayam yang disajikan untuk kami sebelumnya. Hal ini membuat hilangnya kesan angker yang sempat tertanam falam benak saya tentang masyarakat saigon.

Saya melihat mereka sebagai suatu masyarakat yang ramah, toleran. Polisi kota pun jarang tampak di sana, kalaupun ada mereka tidak terlihat sangar atau menakutkan, penampilan mereka bersahaja. Bagi saya, mereka adalah masyarakat yang cinta damai, tapi akan menjadi “singa” jika diusik. Mereka akan menjadi David sang penumbang Goliath jika harga diri bangsa mereka diinjak-injak, terbukti dengan terbirit-biritnya raksasa Perancis, China bahkan Amerika dengan “Rambo”nya

 Posted on : March 15, 2014
Tags :