Categories : Asia Timur Backpacker

 

Menjadikan daratan China sebagai tujuan backpackeran sudah dilakukan sejak 2013 dengan tujuan Guangzhou, lalu Hongkong dan Shenzhen. Namun impian menjadikan China sebagai region yang regular dikunjungi seperti halnya Indochina, harus buyar. Bukan hantaman badai Haiyan yang menghentikan terus bergerak, melainkan hantaman kurs dollar. Walau masih diliputi rasa penasaran, dengan berat hati tour China  itu harus shutdown. Salah satu kepenasaran kala itu ialah belum mencoba rute sleeper train antar kota di negara itu.

Beberapa tahun berlalu, momentum untuk kembali ke China muncul di 2017 ini  ketika maskapai AirAsia promo rute Kuala Lumpur – Kunming seharga 1,3 juta pp.  Rute backpackeran di provinsi Yunnan pun disusun termasuk mencoba perjalanan malam dengan  sleeper train dari ibukotanya, Kunming. Perjalanan malam seperti ini menjadi favorit karena sangat efektif untuk menghemat waktu dan ongkos menginap hehe..

Kunming adalah ibukota provinsi Yunnan di China bagian Selatan yang berbagi perbatasan darat dengan negara Laos dan Myanmar. Provinsi yang berbagi perbatasan darat dengan negara-negara Indochina tak hanya Yunnan, provinsi lainnya adalah Guangxi. Bila Yunnan bisa dimasuki lewat jalan darat dari Laos dan Vietnam, Guangxi bisa dimasuki cuma dari Vietnam. Namun kali ini hanya Yunnan yang menjadi tujuan, terutama karena satu hal : provinsi ini berbatasan langsung dengan Tibet, sehingga darisini kita sudah akan bertemu dengan ekor Himalaya berupa pegunungan-pegunungan salju yang menjulang. Perjalanan  ini memang bukan untuk melakukan pendakian, namun pegunungan salju selalu menyenangkan untuk didekati.

Trip kali ini bertujuan mengunjungi kota pegunungan yang oleh sebagian orang sering disebut sebagai “Little Tibet” yaitu Shangri La yang terletak sekitar 640 km ke arah Barat Laut dari Kunming dengan melewati kota Dali dan Lijiang. Obyek wisata yang bisa dikunjungi dijalur ini adalah Tiger Leaping Gorge di Qiaotou, yaitu ngarai yang diukir oleh sungai Yang Tze Kiang dengan kedalaman yang bisa mencapai 4 km. Melakukan hiking di ngarai ini sangat cocok bagi penyukai hiking dan memerlukan waktu dua hari untuk mengeksplorasinya.

Lijiang merupakan kota terakhir yang bisa dicapai oleh kereta -selebihnya masih dalam kontruksi-  sehingga untuk terus ke arah Barat Laut menuju Shangri La atau kota-kota lain yang lebih jauh seperti Deqin harus memakai bis atau van. Jalan darat ini sebetulnya bila diteruskan akan menyambung ke Lhasa, ibukota Tibet, sayangnya jalur darat ke Tibet ini masih tertutup untuk turis. Namun kita tidak tahu beberapa waktu ke depan. Bila rute kereta Kunming – Shangri La yang direncanakan bisa operasional sebelum 2020, maka bukan tidak mungkin rute ke Lhasa pun semakin terbuka. Bila demikian, ini akan menjadi rute darat terpendek menuju Tibet dari Asia Tenggara.

 

 Posted on : June 3, 2017
Tags :