Categories : Wisata Sejarah

 

junghuhn_self-portraitApabila kita melewati jalan alternatif dari arah Lembang menuju Ujungberung, bukit-bukit hijau perkebunan kina akan menemani sepanjang perjalanan. Asal muasal perkebunan kina ini, tak lepas dari jasa Junghuhn.

Pada bulan Juni 1885 Friedrich Franz Wilhelm Junghuhn ditugaskan sebagai inspektur penyelidikan alam di Pulau Jawa oleh pemerintah kolonial. Tugas utamanya pemeliharaan tanaman cinchona untuk menghasilkan kinine. Pada bulan 1857 saat secara resmi ditugaskan dengan pengawasan perkebunan cinchona, ia langsung merubah prosedur penanaman percobaan  dengan memindah perkebunan cinchona ke daerah pegunungan yang lebih tinggi dan menyuruh menanam semaian-semaian di dalam keteduhan hutan.

Antara tahun 1858 sampai dengan tahun 1862 Johan Eliza de Vrij seorang farmakolog ternama menjadi penasihat proyek cinchona itu. De Vrij menyarankan memilih jenis cinchona lain yang lebih produktif. Sayang pada waktu itu spesies cinchona ledgeriana belum tersedia. Proyek perkebunan cinchona jenis baru ini mulai menuai sukses beberapa tahun sesudah Junghuhn meninggal. Meskipun begitu mengingat jasanya sepatutnya ia dapat dianggap perintis perkebunan cinchona di Pulau Jawa

Kelak species kina yang baru tersebut berhasil dibudidayakan oleh tangan-tangan dingin Preanger planter yang membuka perkebunan-perkebunan kina di Bandung dan Garut. Perkebunan-perkebunan kina jenis baru berhasil meningkatan produksi kinine di pulau Jawa, sehingga pada akhir abad ke-19 kontribusi dari Hindia Belanda mencapai dua pertiga dari penghasilan kinine sedunia.

Pada akhir tahun 1861 Junghunh terkena infeksi amoeba dan sejak waktu itu tidak dapat sembuh lagi. Ia wafat pada tanggal 24 April 1864 dalam usia 54 tahun di rumahnya di Lembang. Makamnya terdapat di kaki Gunung Tangkuban Perahu di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Dalam sebuah taman, yang ditumbuhi tanaman favoritnya Cinchona succirubra maupun C. ledgeriana.

Junghunh jatuh cinta kepada alam Priangan dan disela-sela nafas terakhirnya ia menyampaikan permintaan terakhirnya kepada dokter sekaligus sahabatnya, Groneman.

“Dapatkah engkau membukakan jendela-jendela itu untukku? Aku ingin berpamitan kepada gunung-gunungku yang tercinta. Untuk terakhir kalinya aku ingin memandang hutan-hutan, sekali lagi aku ingin menghirup udara pegunungan”.

 

 Posted on : November 28, 2016
Tags :

Facebook Comments