Categories : Rivering

 

kakao

Pada masanya sungai  Citarum merupakan monster alam dengan kekuatan tak terukur. Amuknya merupakan horor yang dapat melumatkan kehidupan di sekitar alirannya. Demikian pula aktivitas ekonomi terkait sungai terpanjang di Jawa Barat ini pun mencapai skala gigantic. Tak kurang tiga bendungan besar yaitu waduk Jatiluhur, Saguling dan Cirata dibangun untuk menjinakkan raungan monster alam ini.

Para rafter di Bandung tentunya sudah tak asing dengan sungai Citarum. Sebelum  dibendung oleh waduk Saguling, Citarum memiliki jeram-jeram yang disegani karena ganas dan berbahaya. Kini praktis tempat yang terbilang masih layak untuk latihan rafting hanyalah aliran sepanjang satu  kilometer di Bantar Caringin, desa Cisameang. Di tempat ini sudah ada operator rafting bagi wisatawan yang ingin mencoba aliran sungai Citarum. Dari jalan raya Rajamandala, peminat tinggal belok ke arah PLTA Saguling menuju Bantar Caringin. Beberapa kejuaraan rafting dan river boarding berskala nasional maupun  internasional juga pernah diselenggarakan disini

Pertama bersentuhan dengan aliran sungai Citarum saat mulai belajar rafting saya merasa  sangat tidak nyaman. Aliran sungai Citarum seolah  keluar dari balik gunung dengan debit air yang tiada habisnya untuk menerjang apapun yang ada di depannya. Hanya tebing-tebing dan bebatuan kokoh yang mampu menahan gerusan arusnya yang liar. Melihat kami yang gelisah, beberapa senior menenangkan dengan memberi buah coklat yang berwarna kuning kemerahan. Rasanya asam manis dengan daging buah yang putih yang mirip buah manggis. Kesejukan terasa menenangkan beberapa lama setelah melahap buah coklat, entah karena buah coklat itu atau karena merasa terlindungi oleh para senior yang sudah ahli.

Sejak itu kerap sebelum rafting di sungai Citarum kami kerap berhenti dulu  tengah jalan untuk mencari buah coklat yang jatuh ke tanah. Apabila tidak ada yang jatuh terkadang “terpaksa” memetik   buah coklat yang masih menempel di batang untuk bekal cemilan di sungai. Ada berhektar-hektar kebun coklat  di sepanjang jalan yang berliku-liku menuju tepi sungai. Tak apa toh hanya beberapa bulan sekali, kami pikir.

Percaya atau tidak, aroma coklat memang meningkatkan aktifitas gelombang alfa dan beta. Alfa paling umum muncul dalam keadaan santai tapi membangunkan orang dewasa, sementara beta tampak ketika orang melakukan sesuatu pekerjaan mental. Para sukarelawan yang diminta berpartisipasi dalam suatu penelitian di University of Middlesex, Inggris merasakan aroma coklat sebagai  menyejukkan, menyenangkan  dan mereka merasa sangat santai. Aroma coklat secara nyata menekan gelombang teta yang makin banyak hadir saat perintah semakin rumit.

 Posted on : September 23, 2014
Tags :