Categories : ASEAN Countries Backpacker

 

Rute darat kami kali ini (21/11/2016) adalah Bangkok-Siem Reap-Phnompenh-Ho Chi Minh, dengan tujuan utama mengunjungi kompleks candi angkor dan wisata kota di Siem Reap. Bila empat tahun lalu datang dari arah Ho Chi Minh, kali ini menjajagi dari arah Bangkok.

Setelah menginap semalam di Bangkok kami menuju perbatasan Kamboja menumpang kereta ekonomi dari stasiun Hua Lamphong. Bila mendarat dari bandara Don Mueang (DMK), menuju stasiun kereta ini bis naik bis di terminal kedatangan bandara, turun stasiun MRT (subway) Mochit lalu memakai MRT hingga perhentian terakhirnya di Hua Lamphong. Atau lebih mudah lagi, memakai kereta langsung ke Hua Lamphong dari stasiun kereta Don Mueang yang terletak disamping bandara (karcisnya cuma 5 THB !).

Esoknya pukul enam pagi dengan tergesa-gesa karena telat bangun kami bergegas ke stasiun kereta dan membeli tiket ke Aranyaprathet di perbatasan Thai-Kamboja. Harga tiket kereta ekonomi ini sebesar 48 THB yaitu sekitar 18 ribu untuk perjalanan enam jam. Murah bingits…tak heran inilah jalur favorit para turis dari Bangkok menuju Kamboja.

Keluar dari stasiun kereta Aranyaprathet, armada tuk-tuk siap mengantar menuju border. Proses imigrasi berlangsung cepat tanpa ada biaya. Setelah beres dicap paspor di imigrasi Thailand, dilanjutkan berjalan kaki ke pos imigrasi Kamboja. Dari depan pos imigrasi disediakan bis shuttle gratis untuk sampai ke terminal bus kota Poipet dimana bis maupun taxi menuju Siem Reap dan kota-kota lain tersedia. Namun bila kita meluangkan waktu untuk orientasi medan, bis-bis yang lebih murah ongkosnya sebenarnya tersedia di tempat lain. Terminal ini seperti dikhususkan untuk turis asing sehingga biayanya dipatok lebih tinggi. Untuk negara kismin ini, mari kita maklumi saja 🙂

Di perbatasan, sekilas saja sudah terlihat ketimpangan ekonomi kedua negara bertetangga ini. GDP (Gross Domestic Product) Thailand 17x lebih besar dibanding tetangga miskinnya itu. Maklum saja Kamboja  baru sembuh dari carut marut luka perang tak sampai duapuluh tahun lalu kala bunker terakhir Khmer Merah menyerah kepada tentara pemerintah tahun 1998.

Dari kota perbatasan Poipet ke Siem Reap makan waktu paling lama  tiga jam.  Reruntuhan kebudayaan Khmer di Siem Reap menjadi obyek wisata utama di Kamboja dengan komplek candi Angkor sebagai aktor utamanya. Seribu tahun lalu kebudayaan tinggi inilah yang menyinari wilayah Indochina. Namun dengan membludaknya turis kesini, para pengamat yang serius akan melanjutkan kunjungannya menuju ke candi-candi Khmer yang lebih terasing, menjauh dari keriuhan turis yang  terpusat di Angkor Wat, Angkor Thom dan Ta Prom.

Perjalanan darat di Kamboja sangat mengandalkan moda transport bis, karena trayek kereta baru melayani rute Phnompenh-Sihanoukvile dengan pelayanan terbatas. Rute sungai juga bisa melayani Siem Reap-Phnompenh bahkan sampai ke Vietnam, dengan biaya nya berkali lipat namun menjanjikan kesan mendalam.

Setelah melewatkan dua malam di Siem Reap, pada malam ketiga kami menuju Phnompenh lalu melanjutkan ke Ho Chi Minh City melewati perbatasan di Mocbai. Perjalanan bis dari Siem Reap ke Phnompenh memakan waktu selama enam jam, demikian pula Phnompenh-Ho Chi Minh ditempuh dalam waktu relatif sama.

Sebelum perbatasan Vietnam, tepat pada tengah hari kala matahari bertengger di ubun-ubun, bis beristirahat di sebuah rumah makan. Sedikit tips, untuk menyegarkan badan nikmatilah kelapa muda seharga 1 dollar yang berisi jelly dari air kelapanya. Di tengah cuaca Kamboja yang ngajeos, refresment ini terasa menyelamatkan.

Baik Siem Reap maupun Phnompenh tak memiliki terminal bus khusus, sehingga bus-bus antar kota tersebar di poolnya masing-masing. Oleh karena itu lokasi poolnya  di Ho Chi Minh pun berbeda-beda. Tadinya kami berharap akan langsung turun di pool bis kawasan Pham Ngu Lao, Ho Chi Minh tempat para backpacker mangkal. Beberapa operator bus jarak jauh menaikkan dan menurunkan penumpang di kawasan Pham Ngu Lao namun karena poolnya ternyata beda, kami diturunkan di tempat lain entah dimana. Bertujuan ke Pham Ngu Lao, terpaksalah menyegat taxi untuk sampai di jalan favorit ini.

Membandingkan pariwisata Kamboja dengan Thailand atau Vetnam  secara apple to apple  tentu akan terasa kurang fair. Namun walau pariwisata negara-negara tetangganya lebih maju, Kamboja terlalu unik untuk dilewatkan bila kita bicara tentang wisata regional disini. Beberapa wilayah negara Kamboja belum banyak terpublikasi luas, demikian juga banyak jalur darat yang bisa dijelajahi selain jalur populer Siem Reap-Phnompenh.

Beberapa traveler terkemuka mengatakan bahwa alam Kamboja yang sebagian besar masih syahdu ini adalah cerminan Thailand sebelum turis membanjir ke negara itu. Kita bisa membayangkan indahnya. Maka bersegeralah kesana sebelum keheningan itu berubah menjadi hiruk-pikuk seperti kota Siem Reap.  @bayubhar

 

 Posted on : March 8, 2017
Tags :